Isy Kariiman au Mut Syahiidan

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad: “ilbas jadidan wa Isy Hamidan wa mut Syahidan”
(pakailah baju yang baru, hiduplah yang terpuji dan matilah sebagai syahid). Historisitasnya, Nabi bertemu Ibnu Umar dan bertanya: Bajumu baru atau dilaundry? Ibnu Umar menjawab: Bukan baju baru tapi baju lama yang dilaundry.
Akhirnya Nabi mengeluarkan sabdanya tersebut yang menurut Imam As-Sindy merupakan doa untuk Ibnu Umar agar mendapatkan rizki yang banyak, bisa hidup bahagia dan meninggal sebagai syahid.

Hadits tersebut kemudian menginspirasi kalimat yg sangat powerfull:
"Isy kariiman au mut syahiidan"
Hiduplah dalam kemuliaan (Islam) atau mati syahid saja.

Versi lain dari para pejuang kemerdekaan saat Bung Tomo memekikan:
"Dari pada hidup dijajah, lebih baik mati dikolong tanah. Merdeka atau Mati! Allahu Akbar!"

Semboyan yg nggegirisi. Tanpa kompromi dan hanya semboyan yg demikian yg mampu membakar semangat juang melawan imperalisme kafir sampai titik darah penghabisan.

Mati syahid memang menjadi cita-cita para salafus sholeh. dan jihadlah yg membuka jalan untuk itu. Tentu makna jihad yg diganjar syahid, sehingga mayatnya dikubur beserta darah dan baju yg dikenakan tanpa dimandikan dan cukup disholatkan adalah jihad perang fii sabilillah bukan makna yg lain.

"Al-Islâm huwa al-hall” (Islam adalah solusi), "Al-Jihâd Sabilunâ" (jihad adalah jalan kami), li Thatbiqis Syari’ah (untuk menegakkan syariah). Tentu ideologinya bersebrangan dengan jargon "Demokatisasi ala Amerika", "Kebebasan individu" dan "kapitalisme berdasar pasar bebas".

Sayangnya dalam kondisi umat Islam terpuruk dan lemah ini maka pelaku jihad telah dibengkokkan maknanya oleh musuh-musuh Islam menjadi terorist. Kini Kita dituntut untuk berlaku adil dan berkata yg haq, bahwa maka jihad yg berarti perang suci tak bisa tergantikan oleh kata apapun. Jihad yg sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Jihad yg memerdakaan Indonesia dari imperialisme dulu, kini maupun nanti...

[+/-] Selengkapnya...

Yang penting Demokrasi haram?

Banyaknya dalil yang dilontarkan untuk mengharamkan perjuangan melalui demokrasi, menunjukkan bahwa pengharaman tersebut hanya mempunyai satu tujuan yaitu yang penting demokrasi haram, sebagai gambaran, tidak bisa mengharamkan demokrasi menggunakan dalil “A”, maka dicarinya dalil “B”, dengan dalil “B” tidak juga mampu mengharamkan demokrasi, diberondongnya demokrasi dengan dalil “C”, begitu seterusnya bahkan sampai dalil yang ke Z pun akan terus dicari dalil yang penting demokrasi haram tidak peduli dalilnya nampak serampangan.

Dahulu orang-orang mengharamkan demokrasi karena katanya demokrasi itu mengikuti suara terbanyak, menurut mereka demokrasi itu menentukan segala sesuatu berdasarkan suara terbanyak, kalau suara terbanyak itu menginginkan kemaksiatan, maka kemaksiatan tersebut akan menjadi legal, disinilah menurut mereka letak haramnya demokrasi, untuk memperkuat argumentasi ini, mereka mengambil dalil dari al-Qur’an yang menunjukkan adanya mengikuti kebanyakan orang :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya ….. QS. 6:116

Sementara itu, dalam ayat-ayat yang lain al-Qur’an menyebutkan, kebanyakan orang itu bodoh, kebanyakan orang itu dzalim, kebanyakan orang itu fasiq dan lain-lain, sehingga demokrasi, akan memenangkan yang bodoh, dzalim, fasiq dan lain-lain.

Lalu mereka tidak menggunakan dalil ini karena ternyata banyak perda-perda bernuansa Islam yang dihasilkan oleh demokrasi, banyak peraturan-peraturan pemerintahan yang memberangus pelacuran, perjudian, korupsi dan lain-lain yang dihasilkan dari proses demokrasi, sehingga argumentasi mereka yang menyatakan demokrasi akan dimenangkan oleh orang-orang dzalim, bodoh, fasiq dan lain-lain dengan sendirinya runtuh oleh adanya fakta tersebut, yang kemudian lucu dan menggelikan, mereka berkata, percuma perda syariat Islam atau penghapusan perjudian, pelacuran, korupsi dan lain-lain kalau dihasilkan melalui demokrasi.

Betapa tidak, karena sebelumnya, menurut mereka demokrasi tidak mungkin menghasilkan yang positif dan sesuai tujuan Islam, ternyata setelah adanya bukti bisa digunakan untuk tujuan positif dan sesuai dengan tujuan Islam mereka berbalik mengatakan percuma tercapainya hal tersebut kalau melalui demokrasi, nampak sekali kalau mereka hanya bertujuan yang penting demokrasi haram.

Pengambilan dalil QS. 6:116 yang melarang mengikuti kebanyakan orang juga nampak serampangan, karena ternyata pada zaman Nabi, orang-orang Mekkah telah berbondong-bondong masuk Islam, sehingga pada saat itu Islam menjadi mayoritas, dan diikuti oleh kebanyakan orang, apakah lantas Islam dilarang untuk diikuti karena telah menjadi paham kebanyakan orang?, dalil inipun terbantah dengan sendirinya dan nampak bahwa mereka hanya menginginkan yang penting demokrasi haram.

Menyadarinya dalil tersebut amburadul, dicarinya lagi dalil untuk mengharamkan demokrasi, karena tujuannya memang yang penting demokrasi haram, ketemulah dalil yang lain yaitu, kata mereka demokrasi itu bid’ah, karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammd saw, dan mereka mengancam orang-orang Islam yang ikut demokrasi akan masuk neraka berdasarkan dalil berikut :

“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Ancaman tersebut benar adanya dan tidak ada seorang ulamapun yang membantah keshahihan hadits tersebut, tetapi pengaplikasian ancaman tersebut kepada orang-orang yang berjuang melalui demokrasi nampak jelas nafsu mereka yang penting demokrasi haram, mereka menjadi seperti orang bodoh atau memang bodoh sehingga tidak tahu kalau ancaman hadits tersebut hanya untuk urusan-urusan ibadah mahdoh seperti sholat, doa, puasa, haji dan lain-lain, tidak untuk ibadah-ibadah ghairu mahdoh atau mu’amalah.

Pemaksaan penerapan hadits tersebut untuk urusan-urusan ibadah ghairu mahdoh atau untuk urusan-urusan mu’amalah atau untuk urusan kemaslahatan umat akan dapat menyebabkan menilai para sahabat sebagai pelaku bid’ah dan penghuni neraka, padahal para sahabat sudah terjamin masuk surga, kita ambil satu contoh ibadah yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar ra yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beliau pernah memerintahkan untuk membukukan al-Qur’an yang mana perbuatan tersebut sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Zaid bin Tsabit ra menyatakan memindahkan gunung jauh lebih ringan daripada menuruti perintah Abu Bakar ra, hal itu menunjukkan perintah Abu Bakar ra betul-betul sangat baru, tetapi karena hal tersebut sebagai urusan mu’amalah dan untuk kemaslahatan umat Islam maka Zaid bin Tsabit ra akhirnya dapat menerimanya.

Setelah pengaplikasian dalil bid’ah pada demokrasi ketahuan amburadul seperti pemaksaan baju wanita kepada laki-laki hingga nampak seperti banci, mereka tidak berhenti untuk mencari dalil yang lain lagi dan terus percaya diri, karena tujuan mereka satu yaitu yang penting demokrasi haram, dalil lainnya yang mereka berondongkan agar demokrasi dinilai haram adalah dalil penyerupaan atau tasyabbuh kepada orang-orang kafir atau Barat. Mereka mengutip hadits berikut :

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”
HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

Hadits tersebut shahih dan tidak seorang ulamapun yang membantah akan keshahihan hadits tersebut, namun penerapan hadits tersebut untuk demokrasi seperti penggunaan pakaian wanita kepada laki-laki hingga nampak seperti bencong, bahkan pemaksaan dalil semacam itu akan dapat menuduh para sahabat bahkan Rasulullah saw sendiri tasyabbuh kepada orang-orang kafir, bukankah Rasulullah pernah melakukan bekam, dimana bekam adalah pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah? Bukankah keturunan penerus Mu’awiyah ra menggunakan sistem kerajaan untuk pemerintahannya di mana kerajaan adalah sistem yang digunakan oleh orang-orang kafir sebelumnya bahkan hingga kini? Bukankah Rasulullah pernah membuat parit untuk strategi peperangan yang mana parit adalah cara yang dibuat oleh pasukan Syria? Bukankah Umar membuat penjara yang mana penjara adalah cara yang dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir sebelumnya?

Bukankah mereka juga saat ini berbuat apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir, misalnya, anak-anak mereka sekolah di sekolahan yang menggunakan sistem 6 tahun, 3 tahun, dan sistem per semester untuk pendidikan bahkan penggunaan gelar seperti LC, MA, S Ag, yang mana semua itu bukan dari Islam tapi dari Barat atau orang-orang kafir?

Bukankah mereka menggunakan uang kertas dan logam sebagai alat pembayaran?, yang mana alat pembayaran seperti itu bukanlah dari Islam tapi dari orang-orang kafir, Islam sendiri telah mencontohkan emas/perak sebagai alat pembayaran.

Bukankah mereka menggunakan kalender masehi saat ini dan meninggalkan kalender hijriah untuk penentuan tanggal lahir, tanggal acara dan lain-lain, dan masih banyak contoh-contoh yang mereka lakukan yang berasal dari orang-orang kafir tapi mereka diamkan?, sehingga sangat nampak ambisinya bahwa mereka semata-mata hanya ingin yang penting demokrasi haram, titik! Tidak peduli dalilnya tidak pas dan tidak konsisten seperti bencong, antara baju dan jenis kelamin tidak cocok atau antara dalil dan obyek permasalahan tidak cocok.

Dalil itupun kurang ampuh untuk membodohi umat Islam agar mau mengikuti hawa nafsu mereka yaitu yang penting demokrasi haram, maka dicarinya lagi dalil yang lain yaitu menurut mereka demokrasi itu merupakan kesyirikan model baru, karena dalam demokrasi ada pembuatan hukum yang berarti hal itu mengambil hak kedaulatan Allah SWT atau menyamai sifat Allah SWT, untuk menjadikan argumentasi ini nampak ilmiah, mereka mengambil dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits, salah satunya adalah :

” Ingatlah… memerintahkan hanyalah hak Allah…. QS. 7:54.

Menurut mereka orang-orang parlemen telah mengambil hak kedaulattan Allah SWT yaitu membuat pemerintahan dan hukum.

Dalil inipun nampak sebagai dalil yang dipaksakan seperti memaksakan pakaian wanita kepada laki-laki, sehingga menjadikan laki-laki tersebut nampak sebagai banci, pemaksaan dalil ini dapat menuduh para khalifah juga telah merebut hak kedaulatan Allah SWT, siapakah yang memimpin umat Islam pada zaman Khalifah Abu Bakar ra? Abu Bakar ataukah Allah SWT, siapakah yang membuat hukum agar memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat? Abu Bakar ra ataukah Allah SWT, jawaban dari orang yang mempunyai akal tentulah Abu Bakar ra, lantas apakah ada ulama yang mengatakan Abu Bakar ra telah merampas hak kedaulatan Allah SWT dan telah murtad karena telah membuat hukum dan pemerintahan? Sampai saat ini tidak ada, entah kalau kelompok yang mengharamkan demokrasi, kalau mereka konsisten mau tidak mau harus mengatakan Abu Bakar ra telah merampas hak kedaulatan Allah SWT dan murtad.

Apakah mereka menyadari keamburadulan dalil-dalil pengharaman demokrasi? Bisa iya bisa tidak, nampaknya, bagi mereka yang penting demokrasi itu haram, titik!

Insya Allah akan kita sambung pandangan sikap mereka dari kaca mata politik, dengan judul “Siapakah Yang Menguntungkan Yahudi?”. Insya Allah.

Abu Hanif, dikutip dari DEMOKRASI.TK

[+/-] Selengkapnya...

Kemiripan gerakan NII al Zaytun dan LDII

Islam Jamah yang sering disingkat IJ adalah sebuah aliran sempalan yang secara resmi telah dilarang oleh pemerintah RI lewat SK Jaksa Agung No. Kep-08/D.A/10.197, tanggal 29 Oktober 1971.

Karena sudah dilarang di seluruh Indonesia, maka imam Islam Jamaah, Nur Hasan Ubaidah mencari taktik baru. Yaitu mendekati dan meminta perlindungan kepada Let. Jen. Ali Murtopo yang saat itu mejadi wakil Kepala BAKIN dan staf OPSUS (Operasi Khusus Presiden Soeharto). Lalui sang imam menyatakan masuk GOLKAR yang saat itu menjadi organisasi milik rezim berkuasa.


Dibawah naungan pohon beringin, Islam Jamaah ganti kulit menjadi LEMKARI (Lembaga Karyawan Dakwah Islam). Tapi karena isinya sama saja, akhirnya oleh Gubernur Jawa Timur dibekukan dengan SK no 618 tahun 1988 pada tanggal 24 Desember 1988.

Untuk itu proses ganti kulit dilakukan lagi dan kemudian pada Musyawarah Besar Lemkari IV di asrama Haji Pondok Gede Jakarta tahun 1990, LEMKARI diganti menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Kenapa kelompok ini berkali-kali dilarang hingga harus `ganti kulit` berkali-kali ?

Jawabannya ada pada doktrin yang ditanamkan yang banyak menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Doktrin-doktrin sesat dengan mudah ditancapkan kepada para anggota karena rata-rata anggotanya adalah orang-orang berlatar belakang pendidikan agama yang dangkal dan sangat awam. Bisa dikatakan kelompok ini tidak punya ulama atau ahli syariat yang bisa mengawal jalannya anggota dan organisasinya agar tidak keluar dari rel ajaran Islam.
Contoh doktrin yang menyipang dan paling mudah untuk disebutkan adalah :

1. Takfir

Takfir adalah mengkafirkan orang yang tidak berbai`at kepada imam mereka. Ciri takfir ini selalu ada dan menjadi ciri khas kelompok yang menyimpang. Jadi secara psikologis, mereka ingin menanamkan rasa bangga dan ekslusifisme tertentu kepada anggotanya dengan memberi label muslim kepada kelompok mereka dan label non muslim kepada selain mereka (diluar kelompok).

- Dan secara otomatis, setiap anggotanya tidak dibenarkan kawin dengan non anggota, karena menurut mereka, orang yang bukan anggota bukan muslim. Dan nikah sah hanya di depan sang imam.

-Begitu juga dalam masalah shalat kelompok, mereka tidak akan mau jadi makmum di belakang orang yang bukan anggota kelompok mereka.

- Bahkan ada juga yang sampai mencuci kursi tamunya lantaran punya tamu bukan anggota mereka. Tamu ini meski formalnya muslim, namun dalam pandangan mereka kafir sehingga tempat duduknya pun harus dicuci karena dianggap najis.

- Lebih kacau lagi, mereka yakin bahwa harta orang lain yang bukan anggota mereka boleh diambil karena milik orang kafir.

Padahal syariat Islam jelas-jelas melarang kita mudah mengkafirkan orang lain, kecuali memang secara tegas seseorang menyatakan diri murtad. Atau melalui proses pengadilan dengan memanggil orang yang bersangkutan dan telah diputuskan oleh mahkamah syar`iyah bahwa seseorang memang nyata keluar dari Islam.

Sedangkan orang yang lahir dari orang tua muslim, otomatis menjadi seorang muslim dan tidak perlu melakukan syahadat ulang di depan Amir, Imam atau apappun isitilahnya. Baca syahadat di depan tokoh tertentu lebih mirip dengan baptis gaya kristen ketimbang ajaran aqidah Islam.

2. Menyembah Imam / Amir

Salah satu cara mereka dalam menanamkan doktrin sesat adalah memutlakkan taqlid kepada apapun yang dikatakan imam/ amir. Ketaatan kepada amir itu berisfat mutlak dan tertinggi. Bahkan mereka tidak boleh menerima ayat Al-Quran dan Sunnah kecuali yang keluar dari mulut sang amir. Dan semua hukum Islam itu sumbernya hanya satu, MULUT SANG AMIR.

Jadi Amir-lah yang menentukan halal dan haram. Bahkan dia bisa memasang tarif untuk menebus dosa dari anggotanya. Karena dia punya hak untuk menghalalkan atau mengharamkan suatu hukum. Yang haram bisa jadi halal asal bayar sekian juta dan seterusnya. Ini juga sangat mirip dengan kelakuan ahli kitab (nasrani dan yahudi) kepada pendeta dan rahib mereka.

Allah SWT berfirman :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah
:31).

Ubadah bin Shamit, seorang shahabat Rasulullah SAW yang dahulu menjadi Ahli kitab pernah mengkritisi ayat ini, dia berkomentar bahwa dahulu ahli kitab tidak menyembah pendeta dan rahib. Namun Rasulullah SAW menegaskan bahwa sikap mereka yang ta`at, tunduk, patuh dan menjadikan mulut pendeta itu sebagai satu-satunya sumber hukum, tidak peduli bahwa hal itubertentangan dengan kitab suci dan ajaran yang asli dari para nabi, tidak peduli apakah halal atau haram, telah menjadikan mereka MENYEMBAH sang pendeta.

3. Infaq Wajib

Umumnya kelompok sesat berujung kepada pengumpulan duit atau UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Namun karena dikemas dengan doktrin dan segala macam asesorinya, maka dengan setia dan taat mereka mengeluarkan uang buat sang amir. Kalau perlu sampai jadi miskin sekalian. Dan tarif-tarif infaq wajib itu termasuk gila-gilaan. Ada yang menetapkan 20 % dari
penghasilan. Belum lagi zakat, kafarat, denda., harakah dan lainnya.

Walhasil, sang amir mendadak kaya raya dan hidup mewah. Sebaliknya, para anggota semakin kurus karena diperas dan dipaksa cari uang. Kalau kepepet, maka haramya mencuri bisa dirubah jadi halal. Begitu juga dengan merampok, korupsi, menipu dan sejenisnya. Semuanya bisa jadi halal dengan syarat tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, yang salah bukan tindakan
pencuriannya, tapi kenapa kok sampai ketahuan.

Pokoknya apa saja tidak peduli halal atau haram, yang penting harus setor ke amir. Makin banyak setor, makin tinggi pangkat dan kedudukannya. Semua setoran yang sudah masuk tidak dibenarkan untuk diminta laporan dan catatan pembukuannya.

Ketika nur Hasan Ubaidah meninggal karena kecelakaan lalu lintas tahun 1982, dia meninggalkan harta yang sangat banyak sekali. Semua harta itu diwariskan kepada anaknya Abd. Dhohir yang dibai`at sebelum mayat bapaknya dikuburkan. Hebatnya, semua harta itu secara hukum resmi telah syah menjadi milik keluarga Nur Hasan lengkap dengan sertifikat tanah dan lainnya.

Jadi lebih mirip sebuah genk mafia atau sekumpulan preman yang terorganisir. Ada sindikat dan ada `the god father`-nya.

4. Taqiyah

Ciri yang tidak pernah luput dari kelompok sesat adalah taqiyah yaitu menyembunyikan doktrin sesatnya kepada siapapun kecuali kepada mereka yang sudah resmi di bai`at hingga pada level tertentu. Sehingga setiap ada orang yang ingin melakukan konfirmasi ke pihak mereka atas berita kesesatan ajaran mereka, selalu akan dipungkiri dengan sekian banyak dalih. Biasanya, apa yang mereka pajang di `etalase` adalah hal-hal yang baik, bagus, normal dan biasa saja. Barulah setelah kita masuk dapurnya, kita baru bisa tahu seperti apa wujud asli kelompok itu.

Karena itu, banyak ca-ang (calon anggota) yang menafikan informasi kesesatan kelompok sempalan. Bahkan terkadang membela mati-matian kelompoknya.

Jadi informasi kesesatan doktrin kelompok sesat itu umumnya datang dari mereka yang memang sudah pernah menjadi orang inti atau level yang cukup tinggi dalam komunitas itu. Dan cross-chek antara satu orang dan orang lainnya yang sudah tobat memang menunjukkan indikasi yang sama. Artinya pola dan sistematika doktirn itu bisa dipetakan dari hasil pengakuan mereka yang sudah `tobat` dari kelompok itu.

Tapi biasanya, pihak pimpinan akan memblack list mereka dan mengatakan bahwa erekaadalah pengkhiatan dan penyebar fitnah karena sakit hati dan seterusnya. Jadi keterangan dari orang yang sudah tobat itu terkadang tidak mempan karena para angota baru sudah diimunisasi atas info-info kesesatan kelompok mereka.

5. Tidak berani dialog terbuka

Dan jujur saja bahwa semua kesesatannya itu hanya akan mampu memperdaya orang-orang awam dan kosong dari pemahaman Islam yang benar. Kalau dihadapkan kepada para ulama dan masyaikh dari umat Islam, sudah bisa dipastikan mereka akan menghindari dialog dan adu argumentasi. Jadi memang mereka tidak punya itikad baik dalam menggerakkan kelompoknya.

Sumber lain di nii-alzaytun.blogspot.com

[+/-] Selengkapnya...

Salafy dan Israel Kerjasama?

Dalam kesempatan ini, kami nukilkan kepada pembaca yang budiman tentang bagaimana kerjasama antara Salafy dan Israel (dinas intelejen Mossad) dalam memporakpondakan Islam dan kaum muslimin dengan mengadakan berbagai teror dan melontarkan isu-isu ikhtilaf antara Syiah dan Ahlusunah, ataupun di antara kelompok Ahlusunah sendiri. Artikel ini berjudul asli; Mengenal Agen Mossad Dalam Gerakan Islam
FAKTA ini tentu amat mengejutkan, bahkan sulit dipercaya. Betapa kelompok Salafy yang selama ini dikenal sebagai kelompok Islam yang berdakwah untuk Ihyaus Sunnah (menghidup-hidupkan sunnah Nabi SAW), gerakan dakwah mereka ternyata didanai oleh jaringan intelejen Israel, Mossad. Tujuannya untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan kaum Muslim.

Badan intelejen Palestina mengijinkan harian Al-Hayat dan Televisi Libanon, LBC, untuk mewawancarai orang-orang Palestina yang menjadi agen Mossad, dan sekarang ditawan oleh pemerintah Palestina. Mereka telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah Mujahidin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang agen mengungkapkan cara perekrutan mereka serta peranan yang mereka lakukan dalam memantau para mujahidin dan memicu fitnah lewat perselisihan, perpecahan, dan kebencian demi merealisasikan kepentingan strategis Zionisme.

Wawancara ini diterbitkan oleh tabloid An-Nas nomor 127 mengutip harian Al-Hayat yang terbit di London dan juga ditayangkan televisi LBC. Tabloid Al-Basya’ir kembali menyiarkan wawancara tersebut mengingat pentingnya fakta-fakta yang diungkapkan oleh agen ini. Wawancara di bawah ini, yang diterjemahkan oleh Jati Utomo Dwi Hatmoko, M.Sc. , mahasiswa Structural Engineering and Construction Management University of Newcastle Upon Tyne United Kingdom, dan dikutip dari Hidayatullah. com, laporan Bahrum A. Rambe. Berikut hasil wawancara dimaksud:
Wartawan: Bagaimana para zionis itu dapat memperalat anda untuk kepentingan mereka dalam konspirasi dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara anda?
Agen: Awalnya saya membaca iklan di koran lokal tentang adanya pusat studi strategis kemasyarakatan yang bertempat di Singapura, mereka membutuhkan reporter di Tepi Barat untuk melakukan studi sosial dan publisistik tentang lingkungan, kemiskinan, dan lain-lain.

Lalu saya kirim biodata dan ijazah saya. Setelah dua pekan, datang balasan penerimaan saya di lembaga tersebut yang ternyata dikendalikan oleh intelejen zionis Mossad, dan dilaksanakan oleh orang-orang Palestina yang bekerja sama dengan zionisme untuk merekrut orang Arab Palestina dengan cara jahannam yang tidak terpikir oleh siapapun.
Mereka meminta kepada saya untuk menyiapkan laporan kemasyarakatan strategis. Mereka memberi imbalan uang yang cukup banyak. Dari situ, Pusat Studi Strategis palsu itu meminta tambahan laporan-laporan sensitif. Dan saya memenuhinya dengan teratur. Dengan memperhatikan permintaan-perminta an mereka saya mengetahui bahwa lembaga ini ada di bawah Mossad. Tapi saya tidak bisa mundur karena saya sudah memberi laporan-laporan yang sangat sensitif tentang keamanan nasional, tokoh-tokoh Mujahidin, posisi tempat tinggal mereka, dan keberadaan mereka. Informasi ini memudahkan mereka untuk membunuh para Mujahidin terbaik dari Hamas dan Jihad Islami.
Kondisi berkembang sedikit demi sedikit sampai permainan ini tersingkap, mereka memberi kepada saya lisensi untuk menemui orang-orang penting di Tel Aviv. Di sana mereka menyambut saya di sebuah hotel bintang lima. Mereka memberi saya seluruh sarana kenikmatan, tapi ternyata mereka merekam saya ketika berada dalam kondisi memalukan dengan seorang wanita. Hal ini sebagai salah satu cara mereka untuk memperbudak dan mengendalikan saya di kemudian hari.

Dari sini pekerjaan menjadi lebih akurat. Mereka melatih saya seluruh dasar kerja intelejen. Dan komunikasi kami lewat internet, mengirim informasi lewat telepon seluler yang mereka berikan. Dari sini saya mulai mengumpulkan informasi yang paling akurat dan vital tentang tokoh-tokoh intifadhah secara rutin. Posisi saya sebagai reporter, membuat saya dapat bergabung dengan seluruh unsur Mujahidin.

Saya mendapatkan informasi yang sangat penting karena saya dianggap sebagai pejuang. Karena kedekatan saya dengan para pemimpin perlawanan dan pantauan saya terhadap posisi gerakan dan tempat tidur mereka saya telah memudahkan banyak pembunuhan melalui pesawat, penangkapan malam hari atau dengan menembak kendaraan. Dan saya telah merekrut banyak orang untuk kepentingan zionis dengan upah rendah tidak lebih dari 1500 chikel per bulan.

Wartawan: Kami mengetahui bahwa anda dapat mengintervensi beberapa jamaah Islamiyyah, bagaimana itu?
Agen: Sesungguhnya zionis sudah memanfaatkan kepolosan dan ketidak hati-hatian orang-orang Palestina. Kami ditugaskan membuat beberapa situs dengan nama: Palestine Islamiyyah, al-Jihad al-Muqaddas, Tahrir al-Quds, Syababul Intifadhah, dan lain-lain. Dengan situs-situs ini kami berhubungan dengan banyak anak muda yang memiliki semangat jihad. Kami janjikan kepada mereka untuk membiayai mereka dengan uang dan senjata, dengan menyebutkan bahwa dana tersebut bersumber dari orang-orang kaya dari Teluk dan aktivis Islam di Mesir, Yordan dan Kuwait.

Begitulah, kami dapat menembus banyak mata rantai Mujahidin dan merasuk ke dalam tubuh mereka dengan mengatasnamakan Islam dan jihad. Dan yang lebih berbahaya, kami dapat memperalat orang-orang yang bersemangat tinggi, khususnya orang-orang Salafiy untuk menyebarkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Buku-buku ini, sebenarnya dicetak dan dibiayai dengan biaya dari Mossad untuk membuat pertempuran marginal antara aktivis Islam, khususnya antara Syi’ah dan Sunnah di Palestina, Pakistan, Yaman, dan Yordan.

Puluhan judul buku-buku yang menyerang Syi’ah dengan cara menjijikkan, dan buku lain yang menyerang Sunnah, sudah dicetak. Dan dimanfaatkan juga orang-orang yang fanatik dari kedua belah pihak, setelah diyakinkan bahwa buku-buku tersebut dicetak oleh para dermawan Teluk dengan cetakan lux. Selebihnya, pekerjaan akan dilakukan oleh mereka yang teripu dari kelompok fanatik Sunnah seperti Salafiyyin dan lain-lain. Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini, adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan antarpihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingsan sesama mereka, agar Israel dapat merealisasikan tujuannya, yaitu menghancurkan Islam, menelan tanah air, menghapus identitas generasi muda melalui penyebaran dekadensi moral, atau menggunakan orang-orang yang tersingkir di luar kehidupan, fanatik dan keras kepala. Hati mereka penuh dengan kebencian terhadap saudara mereka sesama Muslim, baik Sunnah atau Syi’ah.
Dalam hal ini, jaringan Mossad telah cukup sukses menjalankan missinya. Anda dapat melihat kira-kira semua masjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan, dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis; yang dikesankan seolah-olah dibiayai dari kocek para donatur kaya Arab Saudi, padahal Mossad ada di belakang semua ini. Sayang sekali, banyak orang-orang yang tidak menyadari, termasuk para imam masjid, khatib-khatib, dan da’i-da’i yang menyibukkan diri secara ikhlas dan serius dengan menyebarkan buku-buku beracun minimal bisa dikatakan buku-buku lancang dan fitnah. Fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan. Karena pikiran mereka sempit, maka mereka tidak berpikir tentang tujuan sebenarnya dari penyebaran buku-buku ini, yang meniupkan kebencian, perpecahan dan fitnah khususnya hari-hari belakangan ini.
Buku-buku ini telah mulai menuai pengaruhnya di Pakistan. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Ahlu Sunnah wal jama’ah, membentuk Tentara Shahabat dan menyerang kaum Syi’ah dalam ritual dan rumah-rumah, membunuh mereka ketika shalat Shubuh.
Sebuah pembantaian ganas yang menyedihkan meninggalkan ribuan mayat. Di lain pihak membentuk Tentara Muhammad bereaksi dengan balasan yang lebih keras, ratusan orang terbunuh di kedua belah pihak tiap bulan. Pembantaian berdarah, kedengkian, membuat-buat pertempuran sampingan, fitnah yang berbahaya dengan pahlawan Khawarij zaman sekarang, dimanfaatkan oleh Mossad untuk menyulut fanatisme, pengkafiran, pembunuhan, untuk melemahkan negara Islam pertama yang memiliki bom atom, Pakistan.
Sedangkan rencana mereka di Yaman, sampai saat ini pekerjaan masih berjalan dengan serius dan hasilnya sebentar lagi akan bisa dilihat. Namun sangat disayangkan, khusus tentang pemicu fitnah di Palestina, seluruh tujuan tidak tercapai seperti di Pakistan dan Yaman.

Wartawan: Sekarang apakah anda menyesal? Di mana mata hati anda ketika anda menunjukkan tempat-tempat persembunyian tokoh-tokoh perlawanan kepada zionis, agar dibunuh dengan keji beserta keluarga mereka dengan pesawat Apache dan roket-roket mereka?
Agen: Apalah gunanya penyesalan. Saya merasa sedih ketika mereka memusnahkan sebuah bangunan beserta penghuninya hanya untuk membunuh salah seorang Mujahidin yang dicari, di mana operasi ini menyebabkan terbunuhnya 17 anak kecil dan wanita juga sang Mujahid yang dicari. Sayalah penyebabnya, sungguh sayang. Karena itu, saya berhak dihukum dengan hukuman yang diputuskan pengadilan, yaitu eksekusi.

Mengenal Gerakan Agen Mossad
Semangat menghidupkan sunnah Nabi SAW di satu segi, dan memposisikan gerakan Islam di luar komunitasnya sebagai bid’ah, khawarij, dan tuduhan lain yang jauh dari kesan Islami; tanpa dibarengi dengan wawasan ilmu, pemahaman syari’ah dan siyasah secara memadai, membuat mereka mudah diprovokasi dan diperalat musuh-musuh Islam. Banyak gerakan Islam, dalam melawan zionisme dan hegemoni AS, justru diperalat oleh musuh dengan mengusung doktrin zionis tanpa disadari, sehingga mudah dihancurkan.
Penting bagi aktivis Islam untuk mengenal di antara karakteristik ormas, orpol, maupun gerakan Islam, yang kadangkala tanpa disadari menjadi alat musuh untuk menghancurkan Islam. Berdasarkan kajian dan pengalaman karakteristik mereka itu dapat dikenali antara lain:

1. Mendukung kekuasaan rezim yang zhalim secara apriori, selama penguasa tersebut masih melakukan shalat. Alasannya, karena Nabi memerintahkan taat kepada penguasa Muslim yang masih shalat sekalipun berbuat durhaka atau zhalim. “Enam puluh tahun di bawah penguasa zhalim, lebih baik daripada sehari tanpa pemimpin,” kata mereka. Sementara mereka mengabaikan ayat Al-Qur’an yang melarang membantu orang-orang zhalim yang berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya.

2. Mengklaim pahamnya paling benar tanpa mau diajak dialog mendengarkan hujjah dari pihak Muslim yang dikategorikan sesat.

3. Mengajak umat untuk menjauhi politik, dan memfokuskan diri dalam aqidah dan ibadah dalam pengertian sempit.

4. Gemar mengabaikan hujjah lawan sekalipun hujjah itu dari Al-Qur’an dan hadits shahih hanya karena hujjah tersebut tidak berasal dari syeikh-nya.

5. Mempersempit sumber-sumber pemahaman agama, dan hanya menerima dari ulama panutannya atau pemahaman dari kelompoknya sendiri secara terbatas, dengan menganggap pemahaman jalur lain sebagai bid’ah.

6. Sangat mengecam perilaku yang dikategorikan tasabbuh dengan golongan kafir dan musyrik. Tapi, mengikuti cara berpikir dan kepemimpinan golongan zionis dengan menempatkan pendapat ulama panutannya melebihi Al-Qur’an dan hadits.

7. Menampilkan identitas tertentu untuk membedakan diri dengan kelompok lain secara fanatik sebagaimana halnya dengan sekte-sekte di lingkungan Yahudi dan Kristen.

8. Mengambil ajaran agama dengan mengutamakan hal-hal yang bersifat personal dan keluarga, tapi mengabaikan masalah kenegaraan dan jihad. Hal ini sejalan dengan doktrin Kristen: “Berikan hak Kaisar kepada Kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan.”

9. Sangat membenci, bahkan memusuhi gerakan Islam yang menuntut pemberlakuan Syari’ah Islam secara kaffah, terutama ajaran amar makruf nahyu mungkar dan jihad.

[suarahidayatullah]
(Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 42-46)

[+/-] Selengkapnya...

Sunnah dan Bid'ah Menurut Muh bin Abdul Wahhab?

Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari
Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari, dari ceramah beliau di Surabaya, dengan judul A’lam Dakwah Salafiyyah
Sumber: Majalah As Sunnah)

Beliau hidup tiga abad yang lampau. Di saat itu dunia dipenuhi oleh syirik, bid’ah dan kesesatan. Orang-orang menghadapkan wajah mereka kepada selain Allah, kepada wali-wali Allah, berdoa dan beristighatsah kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah. Mereka menggantungkan hati mereka kepada pohon, batu, kain-kain, pakaian-pakaian, dan peninggalan- peninggalan (yang dikeramatkan) . Mereka mencari berkah dari semua hal di atas. Maka imam ini melaksanakan apa yang Allah ilhamkan kepadanya, dan apa yang Allah telah ilhamkan kepada imam lainnya, amir yang bersamanya. Sehingga bersatulah ilmu dan jihad, pena dan tombak, keduanya saling menguatkan dan saling menolong untuk membela tauhid dan aqidah yang lurus.

Beliau berdakwah di jalan Allah ta’ala dan menuju tauhid yang murni, membuang bid’ah dan khurafat, membantah syirik dan perkara baru dalam agama, dengan kekuatan yang Allah berikan kepada beliau. Maka terjadilah berbagai bantahan, perdebatan, dan diskusi antara beliau dengan musuh-musuh dakwah al-haq di zaman beliau. Beliau mendapatkan kemenangan yang nyata, dan kalimat beliau muncul. Allah meninggikan namanya, karena beliau telah meninggikan Sunnah, dan tauhid.

Beliau juga menyusun kitab-kitab yang mengagumkan, bagus, yang setiap rumah wajib tidak kosong dari kitab-kitab tersebut. Seorang thalibul ilmi -juga orang awam- jangan sampai tidak memilikinya, seperti Kitab Tauhid Alladzi Haqqullahi ‘Alal ‘Abid (Tauhid yang merupakan hak Allah atas para hamba-Nya). Kitab ini kitab yang diberkahi, mudah bahasanya, indah penjelasannya, kuat ungkapannya, yang ada hanyalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau sebutkan faedah-faedah yang dapat dipetik dari ayat-ayat atau dari hadits-hadits.
Sebagian ulama menyebutkan kisah yang mengandung pelajaran berkenaan dengan kitab ini dan penulisnya. Ada seorang di antara penduduk Afrika, yang di sana tersebar pemikiran Sufi yang menyelisihi kitab Allah dan Sunnah Nabi. Dia berkata: “Ada seorang Syaikh, di antara Syaikh thariqat Shufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia mengangkat tangannya dan mendoakan kecelakaan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia mohon kepada Allah, agar Allah berbuat menimpakan keburukan kepadanya,…dst doa. Doa yang menjadikan bergidik hati orang-orang yang bertauhid. Orang tadi berkata, “Suatu kali aku mendatanginya, aku membawa kitab Tauhid, tetapi aku melepaskan sampulnya dan aku buang judulnya. Aku menemuinya, duduk bersamanya, dan mulai mengobrol. Dia berkata kepadaku, “Kitab apa ini?” Aku jawab, “Kitab yang berisi ayat dan hadits, ditulis oleh seorang ulama.” Dia berkata, “Bolehkah aku membacanya.” Maka seolah-olah dia berharap agar dia tambah meminta dan penasaran. Dia lalu
memberikannya, dan berkata, “Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, karena aku tidaklah seperti anda, seorang ‘alim yang agung. Sehingga aku mendapatkan manfaat.” Maka besoknya dia kembali, lalu Syaikh itu mengatakan, “Kitab ini sangat bagus, kitab ini menjelaskan berdasarkan ayat dan hadits, bahwa kita berada di atas kesesatan, kebodohan, dan penyimpangan. Di dalamnya hanya ada firman Allah dan sabda rasul. Siapakah yang menyusunnya?” Dia menjawab, “Inilah penyusunnya. Orang yang selalu engkau doakan kecelakaan di waktu malam dan siang.” Maka dia bertaubat kepada Allah di saat itu juga. Dahulu dia selalu mendoakan kecelakaan untuknya, tetapi dia lalu mendoakan kebaikan untuknya. Inilah imam Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Dakwahnya yang diberkahi terus berlanjut, juga riwayat beliau yang semerbak wangi. Sampai sekarang, keturunan beliau masih meninggikan bendera Sunnah, membela manhaj yang haq, semampu mereka. Kita mohon kepada Allah ta’ala agar merahmati di antara mereka yang sudah wafat, dan menjaga dengan kebenaran di antara mereka yang masih hidup. Saudara-saudaraku, membahas secara sempurna tentang imam ini, karyanya, risalahnya, jawabannya, dan hidupnya, sangat luas. Akan tetapi ini –yang kami sampaikan ini- adalah inti yang menyinari untuk mendorong kita dengan cepat guna memahami riwayat imam-imam kita dan berita-berita pembesar kita.

Di zaman ini banyak ulama dan pembela dakwah. Alhamdulillah, karena dakwah ini membawa banyak kebaikan, keutamaan yang berlimpah, dan cahayanya menyebar ke seluruh dunia. Di Afrika, Asia, Amerika, Eropa, dan di segala tempat kita lihat muwahhidin (orang-orang yang bertauhid), kita lihat Ahlusunnah yang baik, kita lihat para da’i Salafi. Mereka tidaklah disatukan oleh hizb (kelompok), organisasi oleh thariqah, atau harakah. Tetapi mereka disatukan oleh tauhidullah. Maka tauhidullah, dan kalimat tauhid merupakan asas tauhidul kalimat (persatuan). Setiap kita menjauhi kalimat tauhid, kita menjauhi tauhidul kalimat.

Di zaman ini, mulai abad ini, terdapat ulama-ulama pembela dakwah yang diberkahi ini. Di antara mereka, yang pertama adalah, Imam, ‘Allamah Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimi Al Yamani. Kemudian ‘Allamah Mahmud Syakir Al-Mishri. Juga para saudara dan kawan mereka, Abdurrahman Al-Wakil, Abdurrazaq Hamzah, Muhammad Khalil Harras. Sampai perkara ini pada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, beliau adalah salah satu keturunan imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Sampai perkara ini pada muridnya, Imam, ‘Allamah, Al Bashir, Abu ‘Abdillah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Bersamanya juga ada saudaranya, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, imam, ‘Allamah, ustadz kami yang mulia, muhadits umat yang agung. Juga kawannya, saudaranya, temannya, yang serupa dengannya, imam, ‘Allamah, Abu Abdillah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Ahli fikih yang teliti, memiliki pandangan yang dalam, yang diiringi taufik dan tahqiq. Aku katakan, bahwa beliau memiliki keistimewaan daripada seluruh ulama di zaman ini semuanya. Dengan sesuatu yang Allah anugerahkan kepadanya, yang tidak diberikan kepada orang lain. Yaitu bahwa ceramahnya merupakan karya. Hampir semua pembicaraannya, syarahnya, pelajarannya, seolah-olah beliau memegangi penanya, buku tulisnya, dan menulis dengan susunan yang bagus, penggabungan, pembagian, dengan gaya yang istimewa, luar biasa. Alhamdulillah, mereka semua di atas satu jalan, yang cemerlang dan bersih, di dalam membela Sunnah
Nabi, dan meninggikan bendera aqidah Salafiyah. Mereka berjihad dalam hal itu dengan sebenar-benarnya, membelanya di kalangan hamba Allah dan di berbagai negeri. Kemudian mereka wafat pada satu rangkaian. Mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka. Kita bersikap kurang jika kita berhenti di belakang mereka, tidak melanjutkan dakwah mereka, tidak mencari kemenangan dengan manhaj mereka, dan tidak mengangkat bendera mereka. Kalau demikian jadilah musibah yang besar, kita mohon perlindungan kepada Allah.

Tetapi dengan semua ini, kita mendengar orang bodoh dari sana-sini mencela para ulama kita. Engkau dengar salah seorang dari mereka mengatakan, “Ibnu Baz termasuk ulama penguasa.” Wahai miskin, apa yang kau maukan terhadap beliau, seorang laki-laki yang ‘alim, zuhud, banyak beribadah! Apa yang beliau kehendaki dari dunia ini, -sedangkan beliau menganggap remeh dunia ini, merasa cukup dengan sedikit dunia- sampai beliau menjilat penguasa, dan menjadi ulama untuk membela penguasa yang mengikuti hawa-nafsu!

Engkau lihat salah seorang dari mereka mengatakan: “Ibnu Utsaimin tidak memahami waqi’ (kenyataan/situasi dan kondisi).” Wahai miskin, Ibnu Utsaimin adalah seorang ‘alim, tegar bagaikan gunung, beliau mengetahui kaidah-kaidah ilmu, seperti perkataan ulama: “Hukum (keputusan) terhadap sesuatu merupakan cabang dari persepsi (ilmu) terhadap sesuatu itu.” Apakah mungkin, beliau akan atau telah memutuskan hukuman terhadap sesuatu masalah, tanpa memahami waqi’, tanpa melihat sisi-sisinya, dan tanpa meliputi detail-detailnya. Tetapi, memang istilah “memahami waqi’” yang dikehendaki oleh orang-orang bodoh itu adalah kondisi politik zaman ini, yang sumbernya hanyalah dari orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam. Apakah karena imam ini (Syaikh Ibnu Utsaimin) dan saudara-saudaranya (para ulama lainnya) berada di atas kebenaran, yang berupa pengambilan sumber yang baik, pemikiran yang baik, pengambilan pelajaran yang baik dari berita-berita yang ada, lalu hal itu berbalik menjadi
tuduhan terhadap mereka (sebagaimana di atas)? Kita mohon perlindungan kepada Allah ta’ala. Kemudian, ada orang ketiga dari golongan yang mencela ulama kita itu, mungkin dia seorang yang bodoh, mungkin tolol, mungkin berakhlak buruk. Dia menuduh Syaikh Al-Albani, bahwa beliau Murji’ah. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, seandainya si bodoh ini hidup sepanjang waktunya, niscaya dia tidak mengetahui makna irja’ secara benar, makna yang tertolak, ataupun yang tidak tertolak. Demi Allah, sesungguhnya di zaman ini, Syaikh Al-Albani termasuk ulama yang pertama-tama membantah pemikiran, pendapat, kesesatan, dan penyimpangan Murji’ah. Bahkan beliau menyelisihi sebagian ulama yang menganggap perselisihan antara Ahlusunnah dengan para ahli fikih Murji’ah sebagai perselisihan semu, tidak sebenarnya. Syaikh Al-Albani menyatakan, perselisihan itu benar-benar ada, bukan hanya semu.

Bantahan-bantahan Syaikh Al-Albani terhadap Murji’ah tersebut telah berlalu 30 tahun yang lalu, bahkan lebih. Sedang orang yang membantah beliau, jika engkau tanya umurnya, aku hampir pasti bahwa umurnya tidak lebih 40 tahun. Maka ketika Syaikh Al-Albani membantah Murji’ah, engkau –wahai miskin- (yang membantah beliau) sedangkan bermain-main bersama anak-anak kecil di jalan-jalan. Di saat itu engkau sedang membaca alif, ba’, di Taman Kanak-kanak! Kemudian ketika tumbuh sebagian rambut di wajahmu, tiba-tiba engkau mencela dengan kebodohanmu, bersikap kurang dengan akalmu, engkau katakan bahwa Syaikh Al-Albani Murji’. Ini adalah musibah yang hebat, dan dosa besar yang gelap, kita mohon perlindungan kepada Allah ta’ala.

Tetapi ahlul haq selalu ditolong (oleh Allah), bendera mereka berkibar, kalimat mereka tinggi, baik kita suka atau tidak. Orang-orang yang menyelisihi suka atau tidak. Jika kita tidak membela mereka, niscaya Allah akan membela dengan saudara-saudara kita, murid-murid kita, anak-anak kita, atau cucu-cucu kita.
Kebaikan itu terus berlanjut. Walaupun ketiga ulama besar tersebut telah wafat, (Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh Utsaimin –pent) bukan berarti dakwah mereka juga berhenti. Karena sanad masih terus shahih (benar), seolah-olah mata rantai emas, seolah-olah mutiara yang dirangkaikan dengan kebenaran dan cahaya. Hendaklah kita lihat para ahli ilmu dan sunah yang mengiringi mereka. Hendaklah kita lihat Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Hushain bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Mereka semua ini berada di atas jalan dan kaidah yang sama. Kalimat mereka satu, manhaj mereka satu, dan aqidah mereka satu. Walaupun nampak perkara-perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perselisihan di antara mereka. Padahal itu bukanlah perselisihan, dan kalimat mereka akan menjadi satu. Baik di dalam hakikat dan kenyataan, di dalam pandangan dan bentuk. Dan aku melihat hal itu dengan penuh keyakinan dan tawakal kepada Allah wahai saudara-saudaraku, sebagaimana Anda sekalian melihat.

Maka hinalah orang-orang Hizbiyyun, orang-orang zhalim, dan orang-orang bodoh. Dan teruslah dakwah ini dengan kemurniannya, kebersihannya, keindahannya, dan kesempurnaannya. Semoga kita pantas menjadi para pengikutnya, dan para pengembannya. Setelah itu kita berharap kita termasuk para pembelanya. Aku mohon taufik dan ketetapan, petunjuk dan ketepatan kepada Allah untuk diriku dan Anda semua. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya semua. Akhir ucapan kami, Al hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Arsip Cyber: Aqidah | Design by Rohman abdul manap | Template by : Template Unik