Peralatan Laboratorium

Agar pembelajaran berjalan efektif guru biology perlu menerangkan di depan kelas langsung dengan menunjukkan gambar asli dari specimen menggunakan microscop. Sayangnya jika microscop konvensional hanya bisa dilihat satu orang dan tidak bisa seluruh kelas melihat bersamaan kecuali bergantian. Alat ini adalah pengganti eyepiece atau lensa okuler yg terpasang pada microscop sehingga gambar bisa ditampilkan di kelas (lab) menggunakan laptop dan LCD projector.

Dino-Lite AM423X Eyepiece

Untuk microscope biology

Dino-Lite AM423X Eyepiece Digital Camera for Microscope, Camera Size 84mm (L) x 23mm (D) - w/ 30mm, 30.5mm Adapter, 1280 x 1024 Pixels, DinoCapture for Video / Photo Capture, USB 2.0

  • Resolution: 1280 x 1024 pixels
  • Interface: USB 2.0
  • Camera Size 84mm (L) x 23mm (D) w/ 30mm & 30.5mm adapter
  • Sensor: 1/3” Color CMOS
  • Video frame Rate: up to 30 frame-per-second, 15fps at 1.3M
  • Automatic or manual color balance and control
  • Automatic or manual brightness control
  • CD Content: DinoCapture application software, User’s manual
  • Save File format: BMP, JPG, AVI

  • Regular price: $279.00
    http://www.imarketcity.com/diameydicafo1.html



    Produk saingannya:
    Konus 1.3MB USB Microscope Eyepiece

    Features:
    • High-quality 1/2 inch, 1.3 mega pixel CMOS color sensor
    • Maximum image resolution: 1280 x 1008 pixels
    • Field of view: 18mm
    • Sensitivity: 2.7v/lux.sec@green, 2.1v/lux.sec@red, 2.0v/lux.sec@blue
    • File format: BMP, TIFF, JPG, PICT, PTL
    • Exposure: Automatic
    • Shutter Control: Automatic
    • Interface: USB
    • System requirements: Windows 2000/XP
    Sale Price: $279.95

    Bigcatch eyepiece

    Eyepiece Digital Camera (Microscope not included). 1.3M / Resolution 1280x 102
    4. USB 2.0 Output. 110mm(H) x 23mm.
    • Interface: USB 2.0
    • Resolution: 1280 X 1024 (1.3M pixels) for still picture and Live image
    • Sensor: 1/2” Color CMOS
    • Video frame Rate: up to 30 frame-per-second
    • View field: Inscribed rectangle of dia.18 mm
    • Mounting port: Microscope ocular-tube or photo-tube
    • File format: BMP, TIFF, JPG, PICT, PTL etc.


    price: $199 (lebih murah karena resolusinya 1.3M pixel)

    http://www.sunrisedino.com/index.php?main_page=product_info&cPath=2&products_id=12&zenid=70invon3u5r0765kj3ar8arf01

    Bisa dipasang pada telescop juga...

    [+/-] Selengkapnya...

    Hasil UN 2010

    Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) tingkat SMA/ MA/ SMALB dan SMK di Jawa-Tengah dilaksanakan secara serentak, Senin (26/4). UN di Jateng berjalan secara kondusif, tertib, lancar dan dilaksanakan penuh kejujuran dan jiwa korsa. Secara keseluruhan jumlah siswa yang mengikuti UN tahun ini mencapai 307.918. Dari jumlah tersebut sebanyak 25.115 siswa atau 8,16 persen harus menjalani remidi atau ujian ulang.

    Kepala Dinas Pendidikan Jateng, Drs Kunto Nugroho HP Msi, mengatakan untuk SMA se Jateng jumlah siswa yang mengikuti UN mencapai 125.483. Dari jumlah itu 9.810 siswa atau 7,82 persen harus mengikuti ujian ulang. Sedangkan jumlah siswa MA yang mengikuti UN mencapai 36.607, siswa yang masih harus menempuh ujian ulang sebanyak 4.104 atau 11,21 persen. Untuk SMK semua jurusan jumlah peserta UN mencapai 145.785, siswa yang harus ujian ulang sebanyak 11.201 atau 7,68 persen.

    Menurut Kunto, ujian ulang akan dilaksanakan 10 – 14 Mei 2010 mendatang. Peserta UN yang tidak lulus UN Utama termasuk susulan pada tahun pelajaran 2009/2010 dapat mengikuti UN seluruh atau sebagian mata pelajaran. Bagi sekolah atau madrasah yang memiliki siswa calon peserta ulangan/ remidi diharap segera melaporkan jumlah siswa beserta jurusan kepada panitia UN tingkat kota/ kabupaten untuk direkap. Selanjutnya panitia UN segera mengirimkan hasil rekapitulasi itu ke panitia propinsi. Panitia UN kota/kabupaten nantinya yang segera menyiapkan lokasi pelaksanaan UN ulangan, ujar Kunto.

    Untuk tingkat SMP/MTs sederajat hasil UN rencananya akan diumumkan serentak pada 7 Mei 2010 mendatang. Sedangkan pelaksanaan UASBN tingkat SD/ MI sedarajat akan dilaksanakan 4 – 6 Mei 2010 mendatang.

    Siswa SMA Assalaam tahun 2010 ini ada 6 orang yang tidak lulus UN. MA nya 2 orang. Ini jelas penurunan jika dibanding tahun lalu. Tapi lihat betapa angka ketidak lulusan di mana-mana terjun bebas. Berikut datanya:

    167 sekolah lulus nol persen, alias seluruh siswanya tak lulus UN yg jumlahnya 7.648 siswa.

    154.051 siswa tak lulus UN dan harus mengulang.

    Di Solo angka ketidak lulusan UN menjadi 23% (tahun lalu cuma sekitar 10%).

    Tak ada sekolah di Solo dan Sukoharjo yang lulus UN 100%

    Total ada 509 siswa SMS/MS/SMK di Sukoharjo yg tak lulus ujian UN terdiri dari siswa SMA 330 siswa, siswa MA 83 siswa dan siswa SMK sebanyak 96 siswa.

    SMA Batik Solo konon 90 lebih siswanya tidak lulus UN padahal rSBI.

    SMAN 2 tetangga Assalaam tak lulus 32 siswa.

    SM Al Firdaus dua siswa tak lulus.

    PP Almukmin Ngruki 14 siswa tak lulus UN.

    Di luar Jawa angka-angka ketidak lulusan lebih ancuur..
    Di Kaltim dan Sulawesi Utara sekolah meluluskan 20% siswa aja udah bagus.

    Gambar di TV ngeri...
    Ada siswi yg coba bunuh diri dengan minum cairan pembersih lantai (untung dpt digagalkan).
    Ada siswi-siswi yang stres, histeris lalu pingsan rame-rame.
    Ada siswa-siswa ngamuk yg merusak dan menghancurkan kaca-kaca sekolah karena matoritas siswa tak lulus UN.

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam Center at Noon


    [+/-] Selengkapnya...

    Foto Satelit Kampus Assalaam



    Saat ini orang bisa mendapatkan foto satelit gratis lewat fasilitas Google Earth. Kita bisa lihat foto satelit Kakbah di Masjidil Haram ataupun Kampus PPMI Assalaam seperti di atas. Tampak lima kubah Masjid Jami Assalaam di pojok kampus.

    Bayangkan jika yg dicari itu lokasi markas tentara, landasan pesawat tempur, bunker atau gudang peluru. Ini berarti Indonesia 'telanjang' dan mudah dibaca oleh Amerika, bahkan oleh perusahaan swasta pula (Google).

    [+/-] Selengkapnya...

    Santri Assalaam bakar sate



    Ternyata untuk mencatatkan rekor di MURI (Museum Rekor Indonesia) itu pakai biaya. Jadi meskipun santri membakar sate sepanjang 250 meter (panjang penggangan) kalau tidak membayar biaya petugas pencatat rekor ya nggak dianggap. Tapi setidaknya para santri senag bisa makan sate bareng-bareng untuk merayakan Idul Adha.

    Aku sih kurban lewat Solo Perduli. Lewat program Tebar Hewan Kurban kambing dibeli dan dipotong di desa miskin. Biar kemamfaatan kurban lebih barokah, dan semoga pahalanya juga lebih. Amieen.

    [+/-] Selengkapnya...

    Hasil Workshop Stategi Pembelajaran yg Produktif dan Efektif

    Kelompok Kecakapan Hidup:
    PPMI Assalaam, 24-25 Oktober 2007


    Permasalahan-permasalahan di kelas:

    Perangkat pembelajaran:
    • Buku komputer untuk MA dan SMA belum siap. LKS tidak ada.
    • Lab digunakan untuk seluruh unit di Assalaam. Banyak komputer rusak (kurang sarana lab)
    • Meski sudah dijadwal sering bentrok
    • Ngantuk tidak ada di lab komputer mereka terlalu asyik dgn komputer Yg jadi masalah adalah kurang fokusnya pada pelajaran.
    SDM:
    • Tidak adanya teknisi komputer
    • Tidak adanya asisten lab komputer

    Usulan-usulan:
    1. Agar jam mengajar pelajaran juga diatur sedemikian hingga tidak terjadi bentrok jadwal mengajar guru antar unit
    2. Adakan LCD Projector di semua lab komputer
    3. Agar lab disiapkan (dirawat) oleh laboran lebih baik. Ini berarti butuh teknisi komputer dan administrator jaringan (LAN Administrator).
    4. Alangkah indahnya jika ada asisten lab komputer yg standby setiap hari di Lab Komputer (lihat model kursus komputer di luar)


    Tukar pengalaman:

    Beberapa rumusan model pembelajaran yg relevan di pondok
    • Penggunaan methode CTL Contextual Learning disesuaikan dengan pondok
    • Bikin permainan outdoor. Gunakan taman di luar kelas.
    • Bikin folder hasil kerja santri tiap smester (porto folio)
    • Buat pertanyaan dan jawaban dikoreksi langsung di kelas secara rutin
    • Pembelajaran dengan membuat sebuah project real yg penyelesaiannya mengunakan komputer

    [+/-] Selengkapnya...

    Suara santri: Pemberitaan Assalaam di media

    bismillahirrahmanirrahiiiimmmmm.....
    assalaamualikum....

    waw temen2 assalaam kini sedang bersedih...
    salah satu personil dari mereka sedang mendapat masalah
    pembimbing rayon II yang seharusnya jangan pake kekerasan dulu malah disalahgunakan
    sebenarnya mereka benar...
    niat untuk menghukum a'do'nya yang melanggar
    tapi apa disayang anak takhasus yang disidang ga' terima distik lruz lapor ortunya
    dasar ortu yang ga pernah sekolah di pondok dan blum tahu pondok langsung ajah ngomongin hal itu ke polisi
    ternyata dari pengakuan anak yang sangat dilebih2kan itu(padahal cuma distik tapi koq bisa sampai muntah darah, dasar cari alasan koq gak logis banget)
    nah akhirnya kami sukses terkenal seantreo Indonesia di koran2
    yang berjudul besar IPDN TERULANG DI ASSALAAM!

    yah mungkin bagi para pembaca yang budiman
    perlu anda ketahui bahwa yang namanya sekolah berbasis asrama pasti ada yang namanya kekerasan
    tapi ketika kekerasan itu dilakukan tidak ada yang mengandung penganiayaan
    akan gW kasih contoh kekerasan yang bukan mengandung unsur penganiayaan di pondok assalaam
    1. ketika adzan telah dikumandangkan boking ke masjid dilakukan oleh bagian AMN
    hukumannya hanya santri disuruh jalan jongkok sekitar 3 meter
    2. ketika persidangan di depan masjid setelah shalat isya' pengurus OP hanya diberi kewenangan untuk memberi hukuman anak dengan push up,hafalan,lari keliling lapangan voli(5x3m)max.5x,membersihkan kelas kamar dll,dan tingkatan hukuman berdasarkan intesitas beratnya kesalahan anak,
    4. bagi anak yang terkena hukuman melebihi batasnya kami berikan surat pernyataan (super) yang akan langsung diteruskan pada mudir (direktur pondok)untuk diurus

    jadi mungkin yang menimpa anak takhasus itu hanyalah sebuah hukuman ringan
    YANG ANDA PERLU TAHU GWE SERING BANGET LIAT TU ANAK NGEROKOK DI SERVO TIAP GWE NYUCI!

    nah selepas kehadian itu kami selaku santri yang baik bersama2 berdoa semoga pondok kita ini tidak terkena masalah yang buruk .AMIN

    ada berita sedih lagi yang menimpa gW!
    hp yang gW bawa yang seharusnya gW jaga baek2 dengan memasukkan kode pengaman,akhirnya sekarat akibat rusaknya sistem pengamanan yang seharusnya terbuka dengan kode 200789 ga bisa ke BUKAK!
    but anaa masih bisa berpikir jernih, kan gW masih punya garansi selama satu tahun!
    nah rencananya mau gW bawa ke counter hP gW untuk dibetulin
    gW mohon doa dari kalian semua semoga hape gw bisa selamat dari masa kritisnya. AMIN

    ya udah yach temen2 syukron jazakumullahukhairan katsiiraa....
    wassalaamualaikum

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan (Part 9)

    RADAR SOLO Senin, 27 Agt 2007

    Jumat, 24 Agt 2007
    Damai, Hukum Jalan Terus

    Santri Pelapor Diitimidasi
    SUKOHARJO - Penyelesaian secara hukum penganiayaan santri oleh santri di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Kartasura, Sukoharjo, masih belum jelas.

    Hingga Kamis (23/8) malam, keluarga Deri Saputra, 15, korban penganiayaan, masih bernegosiasi dengan pihak pesantren dan keluarga pelaku di Mapolsek Kartasura. Sementara, keluarga I Wayan Mahardika, 15, yang juga korban penganiayaan lainnya masih dalam perjalanan dari Bali menuju Kartasura.

    Suprihatin, 45, ayah Deri, saat ditemui di Mapolsek Kartasura mengatakan jalan damai dengan pondok maupun keluarga pelaku masih terbuka. Hanya saja, hingga pukul 20.00 malam kemarin belum ada kesepakatan yang terjadi.

    Dia menyebut, pihak ponpes masih enggan mengembalikan uang pangkal sebesar Rp 7 juta. Uang itu dibayar Suprihatin saat memasukkan anaknya di Assalaam. "Belum ada kesepakatan. Kalau memang terpaksa, proses hukumnya jalan terus. Perundingan masih alot. Begitu juga dengan keluarga penganiaya anak saya," ujarnya.

    Kapolres Sukoharjo AKBP Yudhawan Roswinarso melalui Kapolsek Kartasura AKP Setyo Budi Utomo mengatakan hanya memfasilitasi perundingan itu. Dia sama sekali tidak terlibat didalamnya.

    Dia menegaskan proses hukum atas kedua pelaku tetap berjalan. Bahkan, tadi malam korban kekerasan yang telah keluar dari rumah sakit sudah dimintai keterangan.

    Dia tidak menampik kemungkinan penanganan perkara ini dihentikan. Kasus dihentikan atau tidak sesuai kesepakatan yang terjadi antara keluarga korban, keluarga pelaku, pengelola ponpes, dan kapolres.

    "Tapi soal pelaku, kami belum menahannya. Nggak ada itu," ujarnya, sekaligus membantah pernyataan Humas PPMI Assalaam Muslim Ridho.

    Setyo mengatakan pihaknya menerapkan pasal penganiayaan pada mereka. Dia membenarkan kasus ini masuk pidana murni. Artinya, perkara hukum penganiayaan bisa terus berjalan. Meski pelapor dan yang dilaporkan telah sepakat berdamai.

    Namun, dia menegaskan tidak akan mempersulit sesuatu yang bisa dipermudah. "Ini kemauan pihak korban. Yang pasti, saya tetap mengacu pada aturan. Sampai sekarang pun proses hukum tetap saya jalankan. Mengenai akhirnya nanti, kita lihat saja," lanjutnya.

    Sementara itu, Deri Saputra, kemarin mengaku intimidasi para santri. Hal itu terjadi sekitar pukul 16.30 kemarin (22/8). Saat itu, dia berniat mengambil barang-barangnya dari Assalaam.

    Setiba di asrama, puluhan santri lainnya sudah mengacungkan kepalan tangan. Mereka pun meneriakinya huuuuuuu. Kata awas pun juga ia dengar dari beberapa santri yang ada. "Mungkin saya dianggap orang yang membocorkan aib pondok. Ustad yang dibelakang saya pun diam saja," ujarnya.

    Intimidasi itu akhirnya membuat Deri takut. Dia membatalkan niatnya mengambil barang dari asrama yang dia tempati. "Nggak tahu kapan saya ambil. Yang pasti, saya nggak mau lagi sekolah di sana. Bisa mati saya," katanya di Mapolsek Kartasura, semalam.

    Seperti diberitakan, dalam dua pekan terakhir tiga santri PPMI Assalam menjadi korban kekerasan fisik seniornya. Dua korban -- Deri Saputra dan I Wayan Mahardika-- dilarikan ke rumah sakit Panti Waluyo.

    Sedang satu korban lain, Alfin, mengalami patah tulang lengan saat dihukum push-up. Informasinya, penganiyaan terhadap Deri dan Wayan dilakukan oleh sembilan seniornya di pondok tersebut.

    Pihak pondok melalui Humas Muslim Ridho mengatakan kasus itu memang terjadi. Yang pasti, kata dia, perkara itu merupakan bentuk pelanggaran terhadap tata tertib pondok. "Pelakunya pasti akan ditindak sesuai aturan yang berlaku" ujarnya beberapa hari lalu.(aw)

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan (Part 8)

    Wali Santri Assalaam Tempuh Jalur Hukum
    http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0708/22/dar4.htm

    Solo, CyberNews. Orang tua para santri korban penganiyaan di PPMI Assalaam tidak terima atas perlakuan yang diterima oleh anak-anak mereka. Pasalnya, pemukulan yang dilakukan pada Jumat 17 Agustus malam itu dinilai sudah di luar batas kewajaran, karena menyebabkan santri muntah darah.

    "Ini harus diselesaikan melalui jalur hukum. Kalau anak saya mati bagaimana?" tegas Heriyani, ibu dari Deri Saputra di RS Panti Waluyo, Rabu (22/8/2007).

    Dia mengungkapkan, begitu mendapat kabar dari saudaranya di Colomadu, bersama suaminya langsung meluncur ke Solo dengan mobil. Begitu tiba langsung melapor ke Polsek Kartasura untuk diproses hukum.

    Dia menilai perlakuan para senior santri PPMI Assalaam itu sudah di luar batas. Apalagi, kasus itu terjadi di sebuah pesantren yang sudah terpandang.

    Menurut Heriyani, dalam pertemuan di Mapolsek, ada sejumlah ustads PPMI Assalaam yang datang. Dalam kesempatan itu, para ustadz itu terkesan membela para pelaku penganiayaan. Para ustadz tidak senang kasus itu langsung dilaporkan ke polisi. Tidak ke pihak pondok terlebih dahulu.

    Sebagai orang tua santri, ujarnya, dirinya tidak terima dengan perlakuan itu. Wali siswa lainnya juga menyatakan hal senada. Bahkan, dari informasi yang dia terima penganiayaan santri senior pada yunior sudah menjadi tradisi di PPMI Assalaam tersebut.

    "Sudah jelas tahu ada kasus seperti itu, kok pihak pesantren tidak mengambil tindakan Saat anak saya kabur juga tidak ada perhatian," jelasnya penuh emosi.

    Lebih lanjut, Siti mengatakan, jauh-jauh dirinya memercayakan anaknya menuntut ilmu di PPMI Assalaam. Dia berharap, anaknya tersebut menjadi anak yang sholeh. Namun, apa yang diterima justru pemukulan dan penganiayaan.

    Secara khusus Heriyani juga mengaku tidak senang dengan Dody-salah satu pelaku. Saat pertemuan di Mapolsek, santri kelas I SMK Assalaam itu terlihat tidak ada rasa bersalah. Heriyani menilai anak itu bersikap "petanthang-pethenteng" dan senyum-senyum. Itulah yang membuat dirinya dan wali siswa lain menjadi emosi.

    Di sisi lain, kondisi kedua korban terlihat sudah membaik meski masih terpasang selang infus. Saat diperiksa oleh dr Samuel SpB, kemarin, dokter tersebut mengatakan sudah tidak apa-apa. Namun, masih diperlukan sejumlah tes laboratorium kembali.( okz/Cn08 )

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan (Part 7)

    http://www.suaramerdeka.com/harian/0708/25/nas22.htm

    SUKOHARJO- Segenap pimpinan Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam meminta maaf kepada pihak yang merasa dirugikan atas kasus pemukulan terhadap Deri Saputra dan I Wayan Mahardika, yang dilakukan dua siswa kelas 1 SMK Assalaam, Dody Setya Rahman dan Adib Bayu Pratama.

    Pimpinan juga siap memberi penjelasan pada pihak mana pun terkait kejadian itu. Hal itu diungkapkan Wakil Direktur II Arkanuddin Budiyanto kepada wartawan dalam jumpa pers di aula Ponpes Assalaam, Jumat (24/8). "Kami juga meminta kepada seluruh wali santri dan seluruh civitas akademika Assalaam serta masyarakat luas agar tidak terpengaruh dengan isu yang tidak sesuai kenyataan," katanya.

    Hadir dalam kesempatan itu Ketua Badan Pengurus Yayasan Mejelis Pengajian Islam (MPI) Ahmad Syamsuri, Direktur PPMI Assalaam Ma'ruf Rohmat, Wakil Direktur I Kadarusman, serta Kepala Humas dan Info Data Muslim Ridho. "Kejadian tersebut adalah pelanggaran berat yang dengan alasan apapun tidak dibenarkan terjadi di lingkungan pondok," tegasnya.

    Pimpinan sudah mengambil tindakan dengan mengembalikan dua santri pelaku kepada orang tuanya. Biaya perawatan korban selama dirawat di rumah sakit, sudah diselesaikan oleh pihak pondok.

    Arkanuddin membantah adanya tradisi kekerasan di lingkungan pondok. Termasuk soal "Gubug Derita" yang disebut-sebut sebagai tempat penyiksaan santri yunior oleh santri senior.

    Wakil Direktur I Kadarusman menambahkan, setelah kasus kekerasan fisik itu, pelaksanaan kehidupan di pondok ke depan tetap akan mengacu pada konsep dasar pendidikan pesantren yang didasarkan pada tata tertib dasar.

    Berakhir Damai

    Ia menambahkan, di Assalaam ada OP3MIA (Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam)-semacam OSIS pada sekolah reguler-yang fungsinya membantu ustadz-ustadz di bidang-bidang pengajaran pada santri.

    Heriyani, ibu Deri Saputra, saat dihubungi via ponselnya mengatakan, penandatanganan pencabutan laporan kasus pemukulan sudah dilakukan Jumat kemarin, sekitar pukul 10.00 di Polsek Kartasura.

    "Masalah kami sudah clear. Kami hemat waktu, yang penting Deri sudah sehat," kata wanita yang berasal dari Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Hulu, Sumatera Selatan.

    Ia mengatakan, Deri akan dibawa pulang dan akan disekolahkan di sana.

    Sementara Didik Dwi Praptono, ayah Dika, saat dikonfirmasi menuturkan, pihaknya sudah sepakat damai dengan orang tua pelaku.

    Namun untuk urusan dengan Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta, pihak yang menaungi Assalaam, belum selesai. Orang tua Dika, orang tua kedua pelaku, dan pihak yayasan juga sudah bertemu di pondok. Didik sepakat damai dengan keluarga Adib dan Dody.

    Kapolsek Kartasura AKP Setyo Budi Utomo menyatakan kasus itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Karena laporan sudah dicabut, otomatis kasus tersebut tidak akan diproses kembali. (H44,G11-60)

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan (part 6)

    Kasus Mirip IPDN Terjadi di Ponpes Assalaam Solo
    http://www.menkokesra.go.id/content/view/4916/39/

    KESRA--22 AGUSTUS: Kasus penganiayaan antara senior dengan yunior di IPDN terulang di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng. Akibatnya, dua santri Takhasus (TKS)-kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA-masuk rumah sakit setelah sebelumnya muntah darah.

    Dua santri Takhasus itu masing-masing Deri Saputra, 15, asal Baturaja Timur, Kab Ogan Komering Hulu, Sumsel dan I Wayan Mahardika, 15, asal Bali. Saat ini, keduanya dirawat di Bangsal Bougenfile No 5 RS Panti Waluyo Solo. Sebelumnya, kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Kartasura.

    Menurut Heriyani, orang tua Deri Saputra, begitu dia mendapat kabar penganiayaan itu dari saudaranya, dia langsung pergi menuju Solo menggunakan mobil. Dia pergi bersama suami Supriyatin. Dia dikabari kalau Deri dan temannya Wayan muntah darah setelah dianiaya seniornya di PPMI Assalaam.

    “Saya khawatir ada apa-apa karena Deri tidak mau ke rumah sakit,” jelasnya, Rabu (22/8/2007). Dia mengatakan, kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Kartasura, Sukoharjo. Tentang kondisi anaknya, menurut dia sudah membaik. Dia berharap tidak terjad apa-apa. dengan putranya tersebut.

    Sementara itu, Kapolsek Kartasura AKP Setyo Budi Utomo ketika dikonfirmasi membenarkan laporan itu. Menurut dia, ada tiga santri PPMI Assalaam yang melapor. Masing-masing Deri Saputra, I Wayan Mahardika, dan Arnold Widi.

    "Kami sudah menerima laporannya pada Senin malam lalu dan sedang melakukan penyelidikan. Pelaku juga sedang kami periksa," jelas Kapolsek.

    Dia juga mengatakan, Selasa lalu sudah dilakukan pertemuan antara korban, wali siswa, dan pihak Assalaam. Pertemuan itu dilakukan dalam upaya penyelesaiaan secara kekeluargaan namun belum berhasil.

    Sempat kabur:

    Tak kuasa menahan siksaan santri senior, tiga santri kelas Takhasus (TKS) Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, sebuah kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA, mengaku sempat kabur karena ketakutan.

    Tiga korban yang kabur dari pesantren masing-masing Deri Saputra asal Sumsel, I Wayan Mahardika asal Bali, dan Arnold Widi asal Yogyakarta. Saat ini, dua diantaranya yakni Deri dan Wayan masih dirawat di RS Panti Waluyo.

    “Kami bertiga kabur dari asrama pesantren karena takut dan trauma dipukuli,” jelas Deri, Rabu (22/8/2007). Bersama Wayan, keduanya bercerita ketiganya kabur pada hari Sabtu 18 Agustus lalu pukul 16.30 WIB.

    Ketiganya dengan berjalan kaki menuju ke arah timur menyusuri Jl Slamet Riyadi. Mereka kemudian berhenti di depan Solo Grand Mall (SGM) untuk naik taksi. Ketiganya menempuh jarak sekitar 5 km dengan jalan kaki dari Assalaam hingga SGM.

    Mereka menaiki taksi menuju rumah bibi Deri di Gedongan, Pepe, Colomadu, Karanganyar. Sampai di rumah itu sekitar pukul 22.00 WIB. Berdasarkan pengakuan Deri, dia bersama Wayan dipukul dengan rotan di bagian paha.

    Selain itu, dada juga ditonjok dan ditendang. Saat itu, para santri yunior disuruh dalam posisi kuda-kuda selama dipukuli para senior. Santri lain disuruh keluar oleh para senior tersebut.

    “Lampu kamar tidur dipadamkan sehingga gelap. Waktu itu ada empat santri yang dipukul oleh sekitar 9 kakak kelas. Kalau kami berdua dipukuli oleh dua kakak kelas,” jelas Wayan.

    Dia menjelaskan, proses pemukulan itu dilakukan sekitar 2,5 jam. Dari pukul 23.00 WIB hingga pukul 01.30 WIB. Pemukulan baru berhenti setelah keduanya roboh karena tak kuasa menahan sakit.

    Setelah roboh para senior berusaha menolong dengan memijit bagian yang sakit sembari memberi minum. Setelah itu, teman santri lain disuruh masuk kembali ke kamar. Tiap kamar tidur ada 18 santri. Saat diminta masuk, masing-masing santri dipukul oleh para senior tersebut. (cn/broto)

    [+/-] Selengkapnya...

    Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan (Part 5)

    Pimpinan Ponpes Harus Awasi Prilaku Santrinya
    Jakarta, Pelita

    Pimpinan Pondok Pesantren dihimbau agar selalu mengawasi santri didiknya, serta memberikan pengertian tentang saling tolong-menolong dan menyayangi antar sesama umat Islam, menyusul kasus penganiyaan terhadap dua santri Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Sukoharjo, Jawa Tengah.

    Pimpinan Pondok Pesantran harus waspada dan teliti terhadap perkembangan jiwa santrinya, dengan selalu memberi pengertian untuk saling tolong-menolong dan ber-ruhama, jelas Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki Solo Ustad Abu Bakar Baasyir kepada wartawan, Rabu (22/8).

    Menurutnya, tindakan kekerasan yang terjadi dilingkungan pesantren jelas telah menyalahi aturan, karena pada umumnya pesantren mengajarkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

    Lebih lanjut Baasyir menegaskan, ada beberapa pesantren yang mengajarkan praktek ilmu bela diri untuk menanamkan disiplin, tetapi hal itu hanya dapat digunakan untuk kondisi tertentu saja.

    Kejadian itu mungkin saja bertujuan mempraktekan beladiri, itu jadi tanpa perhitungan, biasanya juga dilakukan oleh anak-anak yang agak nakal, imbuhnya.
    Ia mengakui, kejadian serupa beberapa waktu lalu, pernah terjadi pada pondok yang dipimpinnya, seluruh jajaran pendidikan segera mengeluarkan santri yang bertindak anarkis itu.

    Baasyir meminta, para pengasuh pondok pesantren bisa tabah dan sabar menghadapi kondisi santri didiknya, dan selalu mewaspadai kemungkinan masuknya unsur yang merusak dari luar pondok pesantren.

    Sebelumnya, kasus penganiayaan antara senior dengan yunior yang berkali-kali terjadi di IPDN, namun saat ini juga terjadi lingkungan Pondok Pesantren. Akibat kejadian itu, dua santri Takhasus (TKS)-kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA, masuk rumah sakit setelah sebelumnya muntah darah.

    Dua santri Takhasus itu masing-masing Deri Saputra (15 tahun) asal Baturaja Timur, Kab Ogan Komering Hulu, Sumsel dan I Wayan Mahardika (15 tahun), asal Bali. Saat ini, keduanya dirawat di Bangsal Bougenfile No 5 RS Panti Waluyo Solo.(cr-9)

    [+/-] Selengkapnya...

    Berita Assalaam di Media? So what gitu lho?

    Comment Ust Nanang: (beliau akan menikah dgn usth Sinta atau sudah ya?)
    Selain itu tidak sampai dilaporkan ke rumah sakit. Soal tradisi penggojlokan secara fisik, Nanang mengaku selama ini memang sering terjadi. Namun, dia mengaku tidak sekeras seperti yang dialami dua santri Deri dan Wayan. ”Saya sudah wanti-wanti (mengingatkan) pada santri untuk tidak terlalu keras. Mungkin santri lupa sehingga kasus ini bisa terjadi,” jelasnya. Dia menambahkan, sebenarnya santri Deri yang dipukul selama ini dikenal agak nakal.

    Sebelum masuk PPMI Assalaam, Deri merupakan santri di sebuah ponpes di Bandung. Dia dikeluarkan dari ponpes tersebut karena kenakalannya dan akhirnya masuk Assalaam. Menurut Nanang, Deri sering membuat masalah dan dia menduga santri kakak kelas merasa jengkel sehingga melakukan pemukulan tersebut


    Terulang kembali berita tentang kekerasan di Assalaam yg dimuat di koran-koran. Kayaknya kekerasan oleh santri senior kepada santri yunior tidak pernah benar-benar bisa dihilangkan di Assalaam. Dengan bentuk asrama berpenghuni cukup banyak maka singgungan antar santri menjadi hal yg sering terjadi. Jika para pengasuh kurang sungguh-sungguh membina santri maka kejadian bisa saja terulang kembali.

    Konflik yg dipicu dari santri junior yg nakal 'diadili' santri senior di asrama memang sepertinya lumrah jika sistem 'keadilan' di asrama tidak jalan. Inilah bentuk relasi sebuah 'masyarakat kecil' santri-santri Assalaam. Jadi sangat aneh jika para santri yg baik malah diem saja saat 'ketidakadilan' terjadi didepan mata. Jangan heran jika mereka yg melakukan kekerasan tidak jarang dari pengurus atau santri yg selama ini cacatan akhlaknya baik.

    Sayangnya media menanggapinya lain. Penegakan disiplin dan aturan masyarakat pondok dianggap pelanggaran HAM. Kebalikan dengan masyarakat umum yg menganggap ada pelanggaran HAM, santri menganggap ada pelanggaran kewajiban asasi santri. HAM vs KAM.

    [+/-] Selengkapnya...

    Berita Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan part 4

    SUKOHARJO – Tak kuasa menahan siksaan santri senior. Tiga santri kelas Takhasus (TKS), sebuah kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA, mengaku sempat kabur karena ketakutan.

    Tiga korban yang kabur dari pesantren masing-masing Deri Saputra asal Sumsel, I Wayan Mahardika asal Bali, dan Arnold Widi asal Yogyakarta. Saat ini, dua diantaranya yakni Deri dan Wayan masih dirawat di RS Panti Waluyo.
    “Kami bertiga kabur dari asrama pesantren karena takut dan trauma dipukuli,” jelas Deri, Rabu (22/8/2007). Bersama Wayan, keduanya bercerita ketiganya kabur pada hari Sabtu 18 Agustus lalu pukul 16.30 WIB.

    Ketiganya dengan berjalan kaki menuju ke arah timur menyusuri Jl Slamet Riyadi. Mereka kemudian berhenti di depan Solo Grand Mall (SGM) untuk naik taksi. Ketiganya menempuh jarak sekitar 5 km dengan jalan kaki dari Assalaam hingga SGM.

    Mereka menaiki taksi menuju rumah bibi Deri di Gedongan, Pepe, Colomadu, Karanganyar. Sampai di rumah itu sekitar pukul 22.00 WIB. Berdasarkan pengakuan Deri, dia bersama Wayan dipukul dengan rotan di bagian paha. Selain itu, dada juga ditonjok dan ditendang. Saat itu, para santri yunior disuruh dalam posisi kuda-kuda selama dipukuli para senior. Santri lain disuruh keluar oleh para senior tersebut.
    “Lampu kamar tidur dipadamkan sehingga gelap. Waktu itu ada empat santri yang dipukul oleh sekitar 9 kakak kelas. Kalau kami berdua dipukuli oleh dua kakak kelas,” jelas Wayan.

    Dia menjelaskan, proses pemukulan itu dilakukan sekitar 2,5 jam. Dari pukul 23.00 WIB hingga pukul 01.30 WIB. Pemukulan baru berhenti setelah keduanya roboh karena tak kuasa menahan sakit. Setelah roboh para senior berusaha menolong dengan memijit bagian yang sakit sembari memberi minum. Setelah itu, teman santri lain disuruh masuk kembali ke kamar. Tiap kamar tidur ada 18 santri. Saat diminta masuk, masing-masing santri pukul oleh para senior
    tersebut. (sumarno/sindo/fit)

    http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=41428&Itemid=67

    [+/-] Selengkapnya...

    Berita Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan part 3

    SUKOHARJO – Dua santri korban penganiayaan santri senior di PPMI Assalaam Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jateng harus menjalani perawatan di RS setelah sempat muntah darah. Para santri itu tidak serta merta muntah darah begitu dipukuli. Namun, selang satu hari setelah pemukulan.

    “Saat tiba di rumah bibi di Colomadu, Karanganyar pada Sabtu malam saya dan Wayan langsung muntah darah,” jelas Deri Saputra, Rabu (22/8/2007).
    Menurut Deri, dia dan Wayan muntah darah setelah malam sebelumnya bagian dada dipukul dan ditendang oleh dua santri senior mereka kelas I SMK Assalaam. Kedua pelaku itu adalah Dody dan Adib Bayu. Saat itu, selain mereka berdua, ada dua teman lainnya yang juga mengalami nasib serupa.

    Dia menjelaskan, saat ini ada dua kelas Takhasus (TKS)-kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA-di PPMI Assalaam. Jumlah santri di dua kelas itu ada 64 santri. Kebetulan Deri dan Wayan beda kelas namun satu kamar tidur dimana dalam satu kamar tidur ada 18 santri.

    Sementara itu, Siti Susilowati-bibi Deri-mengaku sangat kaget begitu Deri tiba di rumahnya langsung muntah darah bersama temannya. Kondisi itu tentu saja membuat dirinya panik dan khawatir sehingga menghubungi orang tua Deri di Sumsel.
    “Saya takut terjadi apa-apa pada keponakan saya. Waktu itu Deri tidak mau ke rumah sakit sebelum orang tuanya datang,” jelasnya.

    Dia menambahkan, sebagai kerabat Deri, dirinya tentu saja tidak terima dengan perlakuan itu. Menurutnya, cara mendidik santri di PPMI Assalaam sudah salah kalau harus ada penggojlokan fisik seperti itu. Menurutnya, kasus penganiayaan di IPDN benar-benar terulang di Assalaam. (sumarno/sindo/fit)

    http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=41429&Itemid=67

    [+/-] Selengkapnya...

    Berita Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan part 2


    SUKOHARJO - Orang tua para santri korban penganiyaan di PPMI Assalaam tidak terima atas perlakuan yang diterima oleh anak-anak mereka. Pasalnya, pemukulan yang dilakukan pada Jumat 17 Agustus malam itu dinilai sudah di luar batas kewajaran, karena menyebabkan santri muntah darah.

    "Ini harus diselesaikan melalui jalur hukum. Kalau anak saya mati bagaimana?," tegas Heriyani, ibu dari Deri Saputra di RS Panti Waluyo, Rabu (22/8/2007).

    Dia mengungkapkan, begitu mendapat kabar dari saudaranya di Colomadu, bersama suaminya langsung meluncur ke Solo dengan mobil. Begitu tiba langsung melapor ke Polsek Kartasura untuk diproses hukum. Dia menilai perlakuan para senior santri PPMI Assalaam itu sudah diluar batas. Apalagi, kasus itu terjadi di sebuah pesantren yang sudah terpandang.

    Menurut Heriyani, dalam pertemuan di Mapolsek, ada sejumlah ustads PPMI Assalaam yang datang. Dalam kesempatan itu, para ustadz itu terkesan membela para pelaku penganiayaan. Para ustadz tidak senang kasus itu langsung dilaporkan ke polisi. Tidak ke pihak pondok terlebih dahulu.

    Baca di
    http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=41444&itemid=2

    [+/-] Selengkapnya...

    Berita Assalaam di Media: Kasus Penganiayaan part I


    SUKOHARJO(SINDO) - Kasus penganiayaan oleh senior terhadap yunior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) terulang di Ponpes Assalaam Solo. Kasus ini sedang diselidiki polisi.

    Kejadian di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo ini, mengakibatkan dua santri Takhasus (TKS) –kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA– masuk rumah sakit (RS) setelah sebelumnya muntah darah. Dua santri tersebut yakni Deri Saputra, 15, asal Baturaja Timur, Kab Ogan Komering Ulu, Sumsel, dan I Wayan Mahardika, 15, asal Bali.

    Saat ini, keduanya dirawat di Bangsal Bougenvile No 5 RS Panti Waluyo Solo. Sebelumnya, kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Kartasura. Kepada SINDO, Deri dan Wayan menuturkan, keduanya dianiaya layaknya kasus di IPDN Sumedang, Jabar. Deri mengaku disekap dalam kamar tidur yang gelap dan dipukuli dua seniornya kelas I SMK Assalaam.

    ”Saya dan Wayan dipukul dengan rotan di paha dan ditonjok di bagian dada,” jelas Deri sembari terbaring di RS, kemarin. Deri dan Wayan merupakan teman satu angkatan. Deri di kelas TKS A dan Wayan di TKS B. Namun, keduanya di ruang tidur yang sama No 33.Kelas TKS dengan lama pendidikan satu tahun untuk memperdalam bahasa Arab.

    Menurut Deri, sebelum dirinya dipukuli, para santri senior mengatakan melakukan balas dendam karena dulu juga pernah dipukuli senior kakak kelas. Selain itu, dua pelaku penganiayaan masing-masing Adib Bayu dan Dody merasa tidak senang dengan keduanya karena sering mengadu pada ustadz.

    selengkapnya:
    http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-tengah-diy/kasus-ipdn-terulang-di-assalaam-solo-3.html

    [+/-] Selengkapnya...

     

    © 2007 Arsip Cyber: Assalaam | Design by Rohman abdul manap | Template by : Template Unik