Belajar Moodle untuk membuat media pembelajaran


Moodle adalah software yg bisa digunakan utk menciptakan kelas virtual. Ada fasilitas untuk presentasi, ada interaksi, ada umpan balik, juga test dan scoring.


Situs resminya di moodle.org dgn resourse sangat berlimpah.


Contoh cara penggunakan ada di sini

[+/-] Selengkapnya...

Keluarga Penulis

Adalah Isa Alamsyah beristerikan Asma Nadia dan dua anaknya Putri Salsa dan Adam Putra Firdaus adalah keluarga penulis. Lewat AsmaNadia Publishing mereka sukses menerbitkan beberapa buku yg laris manis.

Terakhir Isa Alamsyah menerbitkan buku No Excuse yg memberikan motivasi yang sangat menginspirasi. Sementara Asma Nadia punya Maryam mah Kapok (Plesetan judul dari Maryamah Karpov nya tetralogi Laskar Pelangi).

Buku Putri Salsa: Cool Skool dan best friends forever menjadi salah satu
seri pengarang anak-anak terlaris saat ini.

Sementara Adam Putra Firdaus melakukan soft launching karena buku pertamanya baru terbit pekan-pekan depan.

Silakan bagi teman-teman di pesantren, kampus atau lembaga lain jika ingin
menghadirkan keluarga penulis ini. Hubungi Isa Alamsyah di 08128664864 atau
021-77820859

[+/-] Selengkapnya...

Pengakuan dari guru sekolah negeri

http://genenetto.blogspot.com/2008/07/pengakuan-guru-3-kualitas-sekolah.html

Saya tidak terlalu terkejut mendengar kisah-kisah buruk anak yang bersekolah di sekolah negeri. Dari hasil observasi lapangan dengan mendampingi guru di sekolah negeri, saya sependapat dengan Anda. Di sekolah negeri satu kelas 30 -45 anak berjejalan. Dengan jumlah anak sebegitu banyak, sukar bagi guru untuk mengharapkan anak-anak (apalagi SD) duduk diam dan mendengrakan guru berbicara. Di mata para guru, proses belajar adalah menjadi copy cat gurunya, berbicara dan berfikir sperti mereka.


Sekolah yang saya dampingi termasuk (konon menurut diknas) adalah sekolah-sekolah unggulan. Tetapi dari 1 hari jam belajar kurang dari 60%nya dihadiri oleh guru pengajar dikelas. Selebihnya anak-anak dibiarkan 'belajar sendiri' dengan berbagai alasan, mulai dari guru yang harus rapat, ada tamu, pelatihan, mengunjungi teman sejawat sakit (mengapa dilakukan di jam kerja ya?) serta ber-MLM di ruang guru. Ketika guru hadir di kelas pun, pembelajaran sangat tidak efektif. Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris, murid-murid diminta presentasi tentang pet berkelompok 5 orang. Ketika presentasi hanya satu anak (dan biasanya yang paling pintar)saja yang berbicara dan 4 lainnya seperti boneka pajangan berdiri di depan kelas. Tidak ada feeback yang diberikan guru meskipun saya melihat ada beberapa kesalahan bahasa yang umum dilakukan murid dan cukup mengganggu pemahaman yang sangat bermanfaat jika dibahas.


Saya sungguh tidak heran kalau setelah 3+3+3= 9 tahun belajar Bahasa Inggris dari kelas 4 SD -3 SMA kemampuan berbahasa Inggris mereka tidak lebih dari yes/no/I don't know and I love you. Kalaupun ada anak yang kemampuannya lebih dari itu mungkin mereka les di luar atau mendapatkan cukup exposure berbahsa Inggris dari TV, lagu,bacaan, maupun internet.


Guru-guru di sekolah negeri umumnya memiliki kemampuan akademis dan metode pengajaran yang tidak memadai untuk layak disebut guru. Saya mengerti mengapa seseorang lulusan SPGA bisa menjadi guru bahasa Inggris dimana bahasa Inggrisnya sukar dipahami dan bagaimana seseorang lulusan IKIP jurusan Bahasa Inggris dan telah mengajar di SMA 20 tahun tidak bisa membedakan dan membandingkan fungsi simple present and present perfect tense. Beliau hanya tahu formulasi tense nya saja tanpa memahami dengan benar penggunaanya dari sisi makna. Bahkan ketika berbicara, bahasa Inggrisnya sangat kaku. Alasannya:


1. Guru sekolah negeri tidak direkrut dengan melewati ujian kemampuan bidanganya. Dahulu, ketika melamar jadi PNS tesnya adalah psikotes, pengetahuan umum dan pengetahuan Pancasila. Saya tidak tahu bagaimana dengan seleksi calon guru negeri sekarang.

2. Guru bahasa Inggris di sekolah negeri tidak dijaga mutu akademisnya. Ketika saya mengajar di satu kursus Bhs Inggris yang paling populer di Indonesia, setiap tahun para pengajar wajib mengikuti proficiency test. Berdasarkan hasil prof test ini ditentukan tingkat kenaikan hourly rate-nya. Guru yang kemampuan proficiency-nya jalan di tempat penghasilannya juga jalan di tempat dan jumlah jam mengajarnya lebih sedikit dibandingkan yang profieciency-nya meningkat.

3. Di tingkat wilayah, ada banyak supervisor mata pelajaran yang mestinya berkeliling memantau dan menjadi tempat konsultasi para pengajar. Akan tetapi yang saya lihat di lapangan, ketika berkunjung ke sekolah mereka tidak masuk ke kelas-kelas dan mengamati guru mengajar. Mereka biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu ngobrol dengan kepsek dan pulang setelah mendapatkan salam tempel dari beliau. Sesi konsultasi lebih ditekankan pada ada atau tidak adanya lesson plan buatan guru yang akan dijadikan bukti laporan kunjungan kepada atasanyya dikantor.

4. Ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) lintas sekolah yang sedikitnya melakukan pertemuan 1 bulan sekali. Tetapi di lapangan fasilitas ini nyaris tidak berfungsi. Presentasi yang dilakukan dalam pertemuan MGMP lebih banyak dihabiskan dengan perdebatan seputar kapan tunjangan ini itu bisa mereka terima, bagaimana mengisi berkas-berkas administrasi sekolah, dan sejenisnya. Kalaupun ada presentasi dari sesama guru, seringkali presentasinya tidak menjawab kebutuhan guru yang paling mendesak, misalnya bagaimana meningkatkan motivasi siswa belajar di kelas, bagaimana meng-handle kelas besar untuk kegiatan speaking. Seringkali juga presentasi dilakukan dalam Bahasa Indonesia (padahal semua yang hadir adalah guru Bhs. Inggris) dengan alasan agar pesan tersampaikan secara utuh dan menghindari kesalahpahaman. Atau yang mempresentasikan sama bloonnya dengan yang mendengarkan. Guru-guru swasta sering menganggap menghadiri MGMP sebagai sebuah beban. Mereka benar, nyaris tidak ada pembelajaran dari MGMP ini. Tambahan lagi acara sering molor dan agenda pertemuan tidak jelas. Sekolah-sekolah swasta yang cukup bermodal memilih untuk memanggil pelatih dari universitas atau mengirimkan para guru pada sesi-sesi pelatihan di Sampoerna Teacher Training atau di UI. Guru-guru sekolah negeri umumnya harus berjuang sendiri untuk memintarkan dirinya.

5. Guru sekolah negeri tidak dapat dipecat meskipun profesional mengajarnya sangat rendah. Hanya menteri pendidikan yang dapat memecat mereka. Ada juga sekolah negeri dengan komite sekolah yang sangat berdaya sehingga dapat mendesak kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas guru dengan berusaha mencari guru pendamping yang lebih berkwalitas. Guru pendamping ini diseleksi oleh komite sekolah dan dibayar dengan dana komite sekolah.

6. Kepala sekolah banyak yang tidak punya cukup waktu untuk menggiring para guru untuk lebih profesional. Kepala sekolah sibuk ’mengemis’ ke pemerintah tentang betapa butuhnya bangunan fisik sekolah sehingga murid-murid harus belajar dengan atap yang bocor di sana-sini. Kemudian pemerintah merenovasi sekolah mereka menjadi mentereng. Rengekan mereka tidak berhenti, selanjutnya mereka mendesak pemerintah dan komite sekolah untuk membelikan peralatan belajar canggih seperti laptop, in-focus, CCTV, class (home) theater dengan TV seukuran gajah. Bahkan yang lagi trend sekarang adalah meminta dirinya dan kroninya di sekolah dibiayai studi banding ke Australia dan Inggris seperti bapak-bapak di DPR itu dengan alasan mempersiapkan SBI (Sekolah Berstandard Internasional).


Kesimpulan saya, murid-murid di sekolah negeri nyaris tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah. Kalau anak ibu pintar di sekolah, mungkin karena sudah in-born. Kalau dia disekolahkan ditempat yang baik, saya percaya kualitas anak ibu bakal lebih melesat. Hanya anak-anak yang cerdas dan independent learner saja yang bisa survive belajar di sekolah negeri. Jika anak ibu termasuk yang biasa-biasa saja, sukar untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Apalagi anak-anak yang kemampuannya di bawah rata-rata, mereka akan tergerus oleh keliaran suasana sekolah negeri.


Hasil keberadaan mereka di sekolah-sekolah negeri seperti di atas adalah anak-anak yang tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang berkepala dan berhati kosong. Mereka yang bekerja tanpa melibatkan otak dan hatinya, persis seperti sekawanan zombie. Merekalah yang kita lihat sehari-hari; para guru yang mengajarkan anak kita di sekolah, para pegawai negeri lainnya, para pejabat, para anggota DPR, dll. Mungkin dulu mereka pernah melewati masa-masa pembentukan di sekolah-sekolh negeri semacam ini sehingga mereka menjadi orang yang tegaan, tega menipu rakyat dan mencuri dana BOS anak-anak miskin. Sungguh, saya menjadi sangat emosional ketika harus menceritakan kebobrokan di sekolah negeri.


Sebagai orang tua dan guru, setiap kali saya melihat proses pembodohan anak-anak di kelas-kelas, hati saya rasanya teriris-iris dan marah sekali. Saya sangat beruntung punya pilihan untuk tidak mengirim anak-anak saya ke sekolah sampah semacam ini. Beberapa teman saya berusaha untuk memasukkan anaknya ke sekolah ungulan di tempat saya bekerja dengan cara menyogok jutaan rupiah, meskipun saya sudah menceritakan kondisi sekolah sejujurnya, tentang kualitas guru dan system pembelajaran di kelas. Anehnya, mereka tetap lebih percaya pada nama besar sekolah ini. Dengan alasan, jika anaknya bersekolah di sekolah negeri, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk UI dan ITB. Benarkah?


Orang tua yang sebenarnya mengetahui dan memiliki kebebasan finansial untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya, tetapi memilih untuk menutup mata demi gengsi anaknya diterima di sekolah negeri unggulan, wajib merasa bersalah kalau kelak anak-anak ibu juga berkualitas sampah. Saya sangat setuju dengan ibu yang memilih untuk kelaparan daripada membiarkan anaknya diproses menjadi zombie di sekolah-sekolah negeri berkualitas sampah.


Semua yang saya ceritakan ini bukanlah lagu baru. Kalau pendidikan di sekolah memang bermutu dan dapat diandalkan, kursus-kursus bahasa Inggris, bimbel, dan les-les pelajaran di rumah-rumah tidak akan tumbuh menjadi bisnis yang subur. Mengapa anak-anak kita tidak bisa pe-de hanya dengan mengandalkan pengajaran di sekolah untuk menghadapi UAN dan test masuk sekolah? Mengapa mereka baru merasa pede setelah mengikuti bimbel luar sekolah dengan membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan kesempatan digeber 1-2 bulan penuh dari pagi hingga sore mengunyah soal-soal test masuk universitas?


Selama 3 tahun belajar di sekolah, apa yang dilakukan/ dipelajari anak-anak kita? Kalau punya waktu silahkan hitung berapa banyak uang dan waktu yang telah dihabiskan untuk mengirimkan anak-anak kita ke sekolah, lantas hitung bagaimana output yang didapatkan mereka. Mahal dan murah tidak bisa dihitung dari berapa yang Anda bayarkan tetapi diperbandingkan dengan apa yang kita dapatkan dari pembayaran tsb. Mengirimkan anak ke sekolah negeri, meskipun yang katanya unggulan sekalipun, bisa lebih mahal daripada di sekolah swasta yang bermutu. Sudah waktunya kita berhenti menilai kualitas sekolah dari segi kemasan sekolah unggulan, sekolah negeri berstandard internasional, sekolah negeri kategori mandiri, bla..bla..bla....


JANGAN MAU DITIPU LABEL SEKOLAH YANG DIBERIKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL EVALUASI SEKOLAH YANG DILAKUKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL UJIAN NASIONAL. JANGAN PERCAYA DENGAN PIALA SELEMARI YANG DIPAJANG DI LOBY SEKOLAH. INI BUKAN INDIKATOR SEKOLAH BERKUALITAS


Sekolah-sekolah negeri menjadi unggul bukan karena sistem dan guru-gurunya berkualitas unggulan (jauh panggang dari api), tapi karena mereka berkesempatan memilih input yang berkualitas dibandingkan sekolah lain. Jadi sekolah itu unggul karena memang anak bapak dan ibu sudah unggul ketika memasuki sekolah tersebut, bukan karena dijadikan unggul oleh sistem sekolah. Jangan tergiur dengan jumlah siswa yang memenangkan segala macam lomba dari lomba makan kerupuk tingkat sekolah hingga olimpiade fisika tingkat dunia. Sekolah nyaris tidak melakukan apa-apa terhadap anak-anak yang memang dari rumah sudah unggul. Tidak selayaknya sekolah menjual prestasi mereka untuk menipu orang tua murid seolah-olah merekalah yang telah bekerja keras mengantarkan anak-anak kita menjadi unggulan. Kalau anak Anda bodoh, jangan berharap untuk jadi pintar, meskipun kemungkinan ini ada (dengan cara sekolah berkolaborasi untuk memanipulasi nilai raport dan ujian nasional sehingga anak ibu berkesan ’pintar’ di atas kertas). Tulisan saya ini pasti akan sangat menyakitkan bagi teman-teman saya sesama guru. Tetapi begitulah yang saya lihat di sekolah negeri di mana saya bekerja sampai detik ini.


Kalau Anda termasuk orang tua yang tidak punya pilihan selain menyekolahkan anak di sekolah negeri, masih ada harapan untuk menghindari anak-anak Anda terperangkap dalam zombinisasi. Ayolah, bapak dan ibu...jadilah orang tua yang kritis. Kritiklah kami para guru dan kepala sekolah sepedas-pedasnya. Jangan hanya manggut-manggut di rapat komite. Kalau teman-teman saya memble dan kepala sekolah cuex terhadap kualitas pengajaran sekolah, mungkin karena Anda juga memble, tidak mau peduli pada pendidikan anak-anak sendiri dan percaya seratus persen pada pembodohan yang dilakukan sekolah yang konon berlabel ’unggulan’. Anda menuntut guru bekerja keras, bagaiman kalau dimulai dengan Anda menunjukkan kepedulian pada kualitas dengan mengeritik kami di rapat komite. Dengan adanya undang-undang sisdiknas, bapak dan ibu punya power dan berhak untuk ikut campur merubah sekolah ke arah yang lebih bermutu. Kami para guru perlu disentil dan dibangunkan dari ketidakpedulian kami. Oh ya, kalau mengkritik jangan cuma berani di milis. Bicaralah di rapat komite, galang dukungan dari sesama ortu. Atau kalau sekolah tetap tidak peduli, tulis saja di koran ternama. Karena bagi sekolah, nama baik lebih penting dari realitas. Biasanya mempan. Jadilah ortu yang kritis, kalau memang Anda mencintai putra-putri Anda dan ingin melihat mereka tumbuh menjadi yang terbaik dari diri mereka masing-masing.


Ayo lah...jangan memble dan cuex. Jangan beraninya ngedumel di belakang. Ayo ngomong di rapat komite, tulis di koran, atau lapor DPRD komisi pendidikan dan KPK!

[+/-] Selengkapnya...

Sakit Pinggang Ku

Seminggu ini pingangku bermasalah. Sakit pinggang atau encok atau boyok pegel. Awalnya ku kira hanya karena akau duduk terlalu lama di depan komputer ngeNet.

Setelah browsing cari tahu inila ilmu yg kudapat:

Pada umumnya keluhan sakit pinggang erat hubungannya dengan susunan dan fungsi tulang belakang. Tulang belakang tersusun oleh beberapa ruas yang membentuk kesatuan fungsi sehingga dapat melakukan gerakan-gerakan yang diinginkan, seperti: berdiri, duduk, jongkok, membungkuk, memutar, atau miring. Deretan tulang belakang tersebut membentuk lengkungan ke depan pada daerah leher dan pinggang, dan lengkungan ke belakang pada daerah dada dan pinggul. Di antara tulang belakang yang satu dengan yang lainnya terdapat persendian sehingga memungkinkan gerakan berputar ke kanan dan ke kiri.

Di antara bagian-bagian dari unit fungsional tersebut, semuanya mempunyai persarafan yang dapat mengantar rangsangan nyeri. Segala proses yang menyebabkan tarikan, robekan, atau tekanan pada bagian tersebut akan menimbulkan nyeri pinggang. Demikian pula adanya proses peradangan pada bagian-bagian tersebut, dapat menimbulkan gejala sakit pinggang. Nyeri dan kaku pada pinggang pada pagi hari yang dirasakan selama bertahun-tahun lama kelamaan akan merambat ke atas tulang belakang yang dapat pula berakibat punggung menjadi lebih kaku dan punggung menjadi bungkuk.

Ya punggungku sempat terbongkok bongkok karena sakit. Lebih parah dari biasanya. Konon dalam masalah nyeri mka sakit pinggang ini adalah keluhan terbanyak setelah pusing kepala.

Penyebab sakit pinggang antara lain:
  1. Gerak atau sikap badan yang salah saat membungkuk atau mengangkat beban atau barang yang berat
  2. Adanya gangguan mekanik pada struktur dan kesatuan fungsi tulang belakang
  3. Tidur dengan alas/dasar yang terlalu lentur sehingga membuat tulang belakang mengikuti lenturan alas yang ditiduri
  4. Kurang berolahraga sehingga menyebabkan kelenturan sendi-sendi dan jaringan ikut menurun, sehingga otot mudah cedera bahkan hanya karena gerakan yang sederhana.
Dari empat point penyebab sakit di atas yang terjadi padaku adalah poit 1, 3 dan 4.

Obat tradisionalnya bisa diresep seperti link berikut:
Ramuan obat sakit pinggang
Resep lain menggunakan rebusan daun alpokat. Air rebusan diminum tiap pagi.

Referensi lain yg lebih ilmiah dari DetikHelth bilangnya begini:
Low back pain (LBP) bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
  1. Mekanikal atau degeneratif biasanya berhubungan dengan otot atau ligamen, diskus (bagian atas dan bawah tulang yang menghubungkan antar tulang biasanya disebut piringan sendi), kompresi saraf/cauda equina.
  2. Peradangan.
  3. Infeksi, biasanya oleh bacteri osteomyelitis, tyberculous osteomyelitis, dan epidural abscess.
  4. Neoplasma.
  5. Penyakit tulang, seperti osteoporosis, osteomalacia dan penyakit paget.
  6. Ginekologik.
  7. Neurologik.
"Pemeriksaan yang dibutuhkan untuk identifikasi low back pain adalah pemeriksaan fisik (berdiri, terlentang, duduk dan range of movement), pemeriksaan neurologik (motorik, sensorik, sistem otonom, tanda Patrick, kontra Patrick, tes Naffziger, dan tes Valsava), dan jika terdapat tanda-tanda bahaya dilakukan pemeriksaan penunjang (neurofisiologik, radiologik, dan laboratorium)," ujar Dr. Haidir Suleiman, MM, SpRM dari Siloam Hospital Jakarta kepada detikHealth, Rabu (5/8/2009).
Hallah kok jadi ngeri ya... rasanya pinggangku tdk separah itu dech...

Untuk pengobatan Detikhelth menuliskan :
Untuk low back pain yang non-spesifik hampir 91% para dokter melakukan penanganan dengan muscle relaxant (pelemasan otot). Untuk yang non-spesifik biasanya terdapat rasa tidak enak pada daerah pinggang, nyeri kaki, nyeri bokong, kaku pagi yang berkurang ketika berdiri, dan berhubungan dengan postur badan.

"Untuk pengobatan kronis dilakukan dengan NSAID (Non-Steroidal Anti Inflammatory Drug), muscle relaxant, analgetik, antidepresan, anti konvulsan, dan agonis alpha-2 adrenergik," ujarnya.
Dari situs lain ada petunjuk penatalaksanaan pengobatan sakit pinggang:
Pada LBP karena tegang otot dapat dipergunakan SIRDALUD (Tizanidine) yang berfungsi untuk mengendorkan kontraksi otot tersebut (muscle relaxan). Untuk pengobatan simptomatis lainnya kadang-kadang memerlukan campuran antara obat-obat analgesic, anti inflamasi, NSAID, penenang, dll. Apabila dengan pengobatan biasa tidak berhasil mungkin fisioterapi (rehabilitasi) dengan alat-alat khusus maupun dengan traksi (tulang belakang ditarik). Tindakan operasi mungkin diperlukan apabila pengobatan dengan fisioterapi ini tidak berhasil misalnya pada HNP atau pada pengapuran yang berat. Jadi penatalaksanaan LBP ini memang cukup kompleks. Disamping berobat pada Neurolog (spesialis Penyakit Saraf), mungkin juga diperlukan untuk berobat ke internist. Bedah Saraf, Bedah Orthopedi bahkan mungkin perlu konsultasi pada Psikiater atau Psikolog.
Nah sekarang tinggal aku sendiri mau gimana dalam menyembuhkan pinggangku. Aku sekarang lagi nunggu istri beliin jamu pegel linu... juga conterpain buat punggungku. Hallah...

Smoga cepet sembuh aja...

[+/-] Selengkapnya...

Mengajarkan Anti Korupsi di Kelas?

Agak aneh jika kita membayangkan bagaimana mengajarkan anti korupsi di kelas. Kalau hanya dihafal tentu akan semakin aneh. Masih banyak lho guru yg di kelas hanya mengajarkan menghafal materi ajar, padahal pelajarannya bukan tahfidz. Mosok sekelas disuruh menghafalkan kalimat 'Saya anti korupsi!' atau menghafalkan lafal UU anti korupsi. Untuk dipraktekkan juga sulit karena seperti apa caranya ya? Apa kemudian siswa diberi kesempatan korupsi lalu jika ia tidak korupsi berarti nilainya tinggi. Bagaimana ya cara memberi 'kesempatan korupsi' itu? Bagaimana jika siswa pura-pura tidak korupsi hanya agar dapat nilai baik. Bukankah berpura-pura juga merupakan topeng koruptor yang paling menjijikkan?

Tapi ada saja cara kreatif bisa dipakai jika kita mau sedikit menggunakan imajinasi. Bahkan teknik ini melalui pelajaran matematika. Yup, baca saja di
http://maesuri.blogspot.com/2008/02/bagian-1-mengajarkan-anti-korupsi.html.

Kalau di pesantren mestinya bisa lebih variatif. Ini karena santri bisa di awasi 24 jam. Artinya pelajaran anti korupsi benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian. Misalnya bagaimana agar anggaran panitia (organisasi pelajar) benar-benar sesuai dengan peruntukkannya. Ini pelajaran anti korupsi langsung praktek. Juga seperti ide jika ada santri yang menemukan dompet kemudian mengembalikan pada yang punya. Ini peristiwa anti penyelewengan hak. Anti korupsi. Jadi santri yg begini perlu mendapat catatan khusus di raport atas 'prestasinya' dan reward tersendiri. Ini akan menarik karena raport jangan cuma mencatat berapa kali ia mbolos atau catatan 'merah' saja. Raport yg mencatat prilaku ekstra ordinary seperti ini sungguh perlu dibudayakan. Tentu ini bisa terjadi jika wali kelasnya jeli.

[+/-] Selengkapnya...

Hasil Workshop Stategi Pembelajaran yg Produktif dan Efektif

Kelompok Kecakapan Hidup:
PPMI Assalaam, 24-25 Oktober 2007


Permasalahan-permasalahan di kelas:

Perangkat pembelajaran:
• Buku komputer untuk MA dan SMA belum siap. LKS tidak ada.
• Lab digunakan untuk seluruh unit di Assalaam. Banyak komputer rusak (kurang sarana lab)
• Meski sudah dijadwal sering bentrok
• Ngantuk tidak ada di lab komputer mereka terlalu asyik dgn komputer Yg jadi masalah adalah kurang fokusnya pada pelajaran.
SDM:
• Tidak adanya teknisi komputer
• Tidak adanya asisten lab komputer

Usulan-usulan:
1. Agar jam mengajar pelajaran juga diatur sedemikian hingga tidak terjadi bentrok jadwal mengajar guru antar unit
2. Adakan LCD Projector di semua lab komputer
3. Agar lab disiapkan (dirawat) oleh laboran lebih baik. Ini berarti butuh teknisi komputer dan administrator jaringan (LAN Administrator).
4. Alangkah indahnya jika ada asisten lab komputer yg standby setiap hari di Lab Komputer (lihat model kursus komputer di luar)


Tukar pengalaman:

Beberapa rumusan model pembelajaran yg relevan di pondok
• Penggunaan methode CTL Contextual Learning disesuaikan dengan pondok
• Bikin permainan outdoor. Gunakan taman di luar kelas.
• Bikin folder hasil kerja santri tiap smester (porto folio)
• Buat pertanyaan dan jawaban dikoreksi langsung di kelas secara rutin
• Pembelajaran dengan membuat sebuah project real yg penyelesaiannya mengunakan komputer

[+/-] Selengkapnya...

How to Make Lab Activities More Open Ended

Alan Colburn
"How to make lab activities more open ended." CSTA Journal, Fall 1997, pp. 4-6.

When your students do laboratory activities, are they simply following directions, asking whether they are getting the "right answers," and not really learning much from the experience? Are you bored reading a hundred identical lab reports?

You probably agree with the tenets of inquiry-based instruction --- students asking and answering questions. Still, you're more comfortable and successful with the cookbook activities you've done before. You have the materials on hand. Having done the activities before, you know how long they'll take and typical difficulties students will have. To begin anew, finding different activities, and learning a new teaching style requires more time than you have --- teachers have many extra demands placed upon them.

The situation is far from ideal. But what can we do? Perhaps the school gave us a lab manual, or we feel we must cover a particular curriculum. Besides, open ended activities sound good in theory, but have you ever seen what happens if you try that? The kids have no idea what to do... there's chaos! |

In the most recent CSTA Journal, McComas ( 1997) described how "openness"--- the degree to which students make decisions about the problem, the procedure and/or the answers (p. 8) --- is often scarce during laboratory activities. He presented a table, reproduced below for classifying levels of laboratory openness.

Table 1. Schwab/Herron Levels of Laboratory Openness

LEVEL PROBLEM WAYS&MEANS ANSWERS

O Given Given Given

1 Given Given Open

2 Given Open Open

3 Open Open Open


A level 0 activity is one in which the teacher or lab manual decides the question or problem students will investigate, how students will do the investigation, and the validity of the investigation's results. Students make few decisions-other than deciding whether they got the "right answers."

A level 3 activity represents the other extreme. Students decide what to investigate, how to investigate it, and how to interpret the results they generate. Level 3 activities are what most scientists do; level 0 activities are what most students do.

Modifying Laboratory Activities

So, what is the dedicated teacher to do? Gradually modify the activities you are already doing.

To begin, analyze activities by deciding who is making the decisions --- the teacher/text or the student. Choose a couple of "cookbook" activities. They should be activities designed for goals other than teaching students particular skills --- you may better teach skills with a more step-by-step approach.

Ask these questions:
Who decides the questions students are to investigate-teacher or student?
Who decides the procedure to follow answering the question-teacher or student?
Who decides what to observe and data to collect-teacher or student?
Who decides the response to the question(s) investigated-teacher or student?
Who decides how to communicate this information, including data-teacher or student?

Analyzing most activities, the response to each question will be "teacher." On the other hand, the ideal of inquiry-based instruction is something close to that of teachers supervising student investigations. Teachers in these situations would respond "student" to most questions.

Begin changing procedures by taking a level 0 activity and making a few changes to make it more like a level 1 activity. The idea is to progressively make small changes in the activities your students do. Over the course of weeks or months, students move from doing level 0 activities to doing activities that seem more like level 2 or 3 activities. By then, they are figuring things out for themselves, interpreting results, perhaps even repeating procedures. In short, they are thinking-the way scientists do-about what they are doing!

Perhaps the easiest and best place to start is with modifying who decides how to communicate the information. Many commercial activities include a preformatted data table. The teacher can remove the data table. In other words, you give students the same laboratory activity, except the data table.

What happens to a group of students accustomed to doing activities complete with data tables, suddenly confronted with an activity lacking a table? Let's assume you told students they would need to record relevant data.

Students might initially be confused. Most likely, some fraction of students would not record anything, despite your instructions. Another group of students would record much more than, perhaps, necessary. They do not know what data are relevant; fearing an error, they record everything. Another group would record the "expected" data, but less clearly than the convenient data table otherwise provided. A fourth group would record the "expected" data and use a data table similar to that which would have been provided.

Finally, a fifth group of students would record relevant data creatively, in a manner that works for them. This last group might, for example, record information in a visually appealing manner that you never would have imagined. Those with other learning styles might create similarly imaginative methods to record their data.

Three major results happen when teachers omit data tables. First, students present a variety of data display methods. Some are easier to understand than others. The situation presents you with an opportunity to discuss and teach students about the communication skills involved in helping others see information at a glance. The chance is there to help students compare data display methods and decide which methods communicate the information most easily and pleasantly. This is a valuable skill.

Second, you won't have to look at dozens of identical lab tables when reading student lab reports. A little variety and creativity in student work makes grading less tedious. Make data presentation count for part of the lab's grade.

Third, students eventually learn to think about the data they should record and how to record it. It may take a few activities sans data table for students to realize they must do these things, but most will catch on.


More Modifications

Teachers can then consider modifying student procedures, without eliminating them. For example, you can modify (or omit) many measurements given within directions. Directions might say to put 20 ml of a solution into a test tube. Why 20 ml? Why not 18? If a student used 26 ml, would the results be different?

Consider what would happen if students were told to put "a few" or "several" rnl into the various well plates. Some would put such a small volume of liquid they couldn't see what was happening; they would learn something about why 20 ml may be optimal.

Some students might use considerably more than 20 ml. If given a limited volume of chemicals to work with, they would learn about the need to think ahead and plan, especially if they ran out of reagents and were unable to complete the activity. This latter point is something you might tell students about before beginning the activity.

As with the data table discussion above, the lack of directions may initially confuse some students. However, students do eventually catch on if the teacher perseveres.

Remember: make changes gradually. You may want to leave the data table out for a few activities before starting to modify procedures. You and your students need time to accustom yourselves to new elements of teaching and learning.


More Radical Changes

Finally, after students are used to the independent thinking that comes from activities without data tables and total step-by-step directions, they (and you) may be ready for occasional activities demanding more thought on their part. You can often distill commercial activities to a single question that students answer when doing the activity. So, rather than be given complete directions, students can simply be given the question they are to investigate. As "hints" you can give students limited materials to work with or even show a sample experimental setup. You are ultimately still in control of the environment in which students work.

Still, they must decide the order to follow when doing their work, quantities of supplies to use, what to record, and how to interpret their data. You may want to try this sort of activity after students understand relevant background information. You may also want to try this first with an easier actlvlty.

I think it is realistic to say that, if you try the changes I am advocating in this article, some students will struggle. However, in this case struggle is good. Students will eventually or immediately rise to the challenge. Higher expectations are good for teachers and students alike. So, try it! You can use materials and activities you have on hand and feel comfortable with, yet still challenge your students in ways that help them think like scientists. Isn't that why we're here?

http://www.exploratorium.edu/IFI/resources/workshops/lab_activities.html

[+/-] Selengkapnya...

Andragogy

Malcom Knowles merupakan orang yang dianggap pioner dalam memperkenalkan pembelajaran untuk orang dewasa.(http://www.learningandteaching.info/learning/knowlesa.htm).

Ia menjelaskan mengapa pembelajar dewasa berbeda dengan pembelajar umumnya. Karena Knowles berasumsi bahwa :
# The need to know — adult learners need to know why they need to learn something before undertaking to learn it.
# Learner self-concept —adults need to be responsible for their own decisions and to be treated as capable of self-direction
# Role of learners’ experience —adult learners have a variety of experiences of life which represent the richest resource for learning. These experiences are however imbued with bias and presupposition.
# Readiness to learn —adults are ready to learn those things they need to know in order to cope effectively with life situations.
# Orientation to learning —adults are motivated to learn to the extent that they perceive that it will help them perform tasks they confront in their life situations.

Sedangkan perbedaan androgogy dan pedagogy dapat dilihat pada daftar berikut ini:

1. Demands of learning :

Andragogy: Learner must balance life responsibilities with the demands of learning.

Pedagogy: learner can devote more time to the demands of learning because responsibilities are minimal.

2. Role of instructor :

Androgogy : Learners are autonomous and self directed. Teachers guide the learners to their own knowledge rather than supplying them with facts.

Pedagogy : Learners rely on the instructor to direct the learning. Fact based lecturing is often the mode of knowledge transmission.

3. Life experiences :

Androgogy : Learners have a tremendous amount of life experiences. They need to connect the learning to their knowledge base. They must recognize the value of the learning.

Pedagogy : Learners are building a knowledge base and must be shown how their life experiences connect withthe present learning.

4. Purpose for learning :

Androgogy : Learners are goal oriented and know for whatpurpose they are learning new information

Pedagogy: Learners often see no reason for taking a particular course. They just know they have to learn the information.

5. Permanence of learning :

Androgogy : Learning is self-initiated and tends to last a long time.
Pedagogy: Learning is compulsory and tends to disappear shortly after instruction.

http://coe.sdsu.edu/eet/Articles/andragogy/index.htm
cari juga naskah tentang pengajaran di link
http://honolulu.hawaii.edu/intranet/committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/tea

Dari Blognya Ust Bashir
http://zulfa4wliya.wordpress.com/

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Arsip Cyber: Learning | Design by Rohman abdul manap | Template by : Template Unik