Fenomena Left Group

(Sedikit pelajaran utk bahan kita melihat cermin diri)

"Ah bikin sakit hati nih omongannya, ya udalah gue left group aja"
"Ya ampun.. Ini grup sepi amat. Buat apaan ada grup, ya udalah left grup aja"
"Ih parah banget chat gue ga di respon tp yg lain di respon, ah BT ya udah left grup"
"Ahhh berisik banget ini grup.. ganggu aja ah, bikin HP nge-hang aja ih. Mending chat nya penting". Lalu ia left grup
Dan msh bnyk alasan2 yg lainnya..

Sob, knp sih mudah banget teman kita left grup?
Mungkin menurut sebagian org itu hal yg sederhana, hanya keluar dari suatu grup.
Keluar dgn berbagai alasan yg sebenarnya hanya luapan emosi sesaat.

Padahal, dgn kejadian org yg mudah left grup sesuka hatinya akan mempengaruhi kondisi psikologis anggota yg lain. Left grup mudah menular.

Bahkan, jika sering terjadi dlm sebuah grup akan mengubah esensi kebersamaan grup tsb. Bisa memutuskan tali silaturrahmi antar anggota sebuah komunitas atau kelompok. Di dunia maya maupun di dunia nyata.

Seseorg yg sedang merasa tdk nyaman dlm segi emosinya, ia akan mudah terprovokasi dgn apapun yg dibacanya. Dan left grup merupakan jalan pintas utk keluar dari masalah yg sehrsnya bukan menjadi masalah bila ia mau lebih bersabar & memahami anggota grup yg lain.

Sebenarnya, kita bisa kembali merenungi nial awal kita masuk dlm sebuah grup. Fikirkan untung ruginya jika kita left. Baik untung rugi kita atau untung rugi anggota grup yg lain. Sekarang atau nantinya.

Setidaknya keuntungan yg dapat diraih dgn ikut grup adalah utk menjaga silaturrahim, utk berdiskusi, utk berbagi informasi, utk saling mengingatkan tentang kebaikan atau bahkan, utk bersinergi dlm menjalankan suatu amanat.

Sebuah grup pun sepantasnya dibuat bukan utk main2. Agar para anggota grup tdk memubazirkan waktu, bandwidth n pulsa. Jikalaupun ada yg main2 itu bukanlah menu utama, hanya sekedar selingan utk berbagi senyum kebahagiaan.

Ada bbrp tips utk menghindari terjadinya fenomena "Left grup" ini:

- Ingat kembali tujuan dibentuknya grup tsb.

- Hidupkan grup dgn saling sapa yg ringan dan hangat sehingga semua anggota nyaman & merasa dianggap.

- Menjadi member yg responsif dlm menanggapi info penting. Krn jika ingin dihargai mk mulailah utk menghargai info dari org lain.

- Berusaha mengenal setdknya bbrp anggota grup yg sering muncul, fahami gaya bicaranya & kepribadiannya agar jika ada kata2 yg tertulis tdk baik bisa kita fahami & maklumi utk mengurangi salah faham.

- Selalu berpikiran positif terhadap grup. Jika grup sedang sepi mungkin anggotanya sedang sibuk, atau jika terlalu ramai mungkin anggota grup sedang luang atau butuh rehat dari penat dgn saling canda.

- Jika perlu gunakan japri antar anggota saja utk keperluan yg sifatnya personal yg publik atau anggota lain tdk perlu tahu.

- Coba biasakan check n recheck isi berita sebelum copas atau broadcast agar tdk ikut menyebarkan hoax. Juga menghindari postingan dobel.

- Manfaatkanlah moment kebersamaan di dlm grup misalnya dg mengadakan pertemuan secara berkala. Baik dgn cara  rapat online pd hari waktu tertentu atau copydarat.

So. Jika kita selalu menyalahkan org lain atas masalah yg kita hadapi, takkan ada perubahan yg kita dpt. Bahkan kebencian yg akan melekat dlm hati kita.
Tetapi, mulailah menjadi pribadi yg lebih baik & menghargai setiap detik yg terjadi. Bersyukur atas segala pencapaian yg telah dimiliki & mencintai semua org2 yg hadir dlm hidup kita meski dlm dunia nyata ataupun maya.

Harus kita ingat bahwa tujuan dari pendirian Grup adalah utk mengorganisasi dan menyatukan bermacam pribadi dari berbagai latar belakang yg berbeda, pada suasana hati yg kadang berbeda pula.

Semoga Bermanfaat...

[+/-] Selengkapnya...

Facebook Status Anak Kita

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.

Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.

Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.

Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.

Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka

Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.

Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.

Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.

Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.

Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.

Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi

Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.

Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.

Pacaran Online Pun Terjadi

Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.

Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.

Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.

Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).

Wallahu a’lam bishawab

[+/-] Selengkapnya...

Mudik

Oleh :Indra Fakhruddin

Pemandangan arus mudik yang unik dinegeri yang menggelitik. Fenomena berseri disetiap jelang Hari Idul Fithri. Asap-asap knalpot menyesakkan pernafasan. Kemacetan bak ular yang lama terurai. Jalan tol bebas hambatan jadi mitos berkepanjangan. Konon tol panjang jadi alat pembunuh masal. Kedisiplinan pengguna jalan barang langka. Asal cepat biar selamat nekatpun mantap, begitu semangat empat lima pekik pemudik. Anak-anak dan perempuan dalam himpitan berjibun manusia sambil menenteng tas dan kardus yang berat, berisi buah tangan sanak saudara dikampung halaman. Panas terik keringat mengucur santapan yang harus dinikmati. Semua dilakukan demi mudik, pulang kampung.

Pulang kampung dambaan setiap  orang yang merantau ditanah orang, jauh dari jengkal kampung kelahiran. Demi menyambung kehidupan hijrah pun dilakukan. Kota-kota besar tujuan menggiurkan tempat mengadu nasib. Dengan segala sumber daya yang berbeda-beda catur kehidupan dimainkan. Hidup adalah pilihan. Menurut kaca mata sederhana nasib ditentukan akumulasi kesungguhan, kebiasaan dan pilihan.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari raya idul fitri  momentum yang ditunggu-tunggu, sejenak menengok kampung kelahiran atau sungkem kepada orang tua. Dari seluruh pelosok negeri berduyun-duyun satu tujuan menuju kampung halaman. Tak heran kota-kota besar, seperti dikuras abis menjelang hari raya. Jalanan kota yang biasanya bising oleh kemacetan hari itu sepi tak berpenghuni. Bahkan  katanya buat futsal pun bisa. Saat semua mudik, kota besar menjadi lega.

***

Kembali

Mudik mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu akan KEMBALI ketempat asal.  Dunia fana ini segalanya kembali berpusat kepada Dzat Yang Maha Kuasa Pencipta dari tidak ada menjadi ada. Jagat raya beserta isi hakikatnya milik Allah Swt. Segala kenikmatan yang bisa dirasa oleh manusia berupa rizki hanyalah titipan sementara. Harta, rumah, perhiasan, anak, kendaraan, kesehatan, bahkan umur titipan semata. Adakalanya Allah Swt mengambilnya barang sementara atau bahkan selamanya.

Musibah terkadang menghadang. Itulah saat Allah swt mengambil kembali miliknya. Ingatlah ketika Allah swt berfirman:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ﴿١٥٦﴾

"156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"." (Q.S.2:156)

Yang patut untuk kita catat adalah semua musibah yang merenggut (mengambil kembali) kenikmatan banyak disebabkan karena perbuatan kita sendiri.

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾

"30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."(Q.S.42:30)

Sehingga jangan sampai kenikmatan yang telah Allah anugerahkan melupakan kita kepada Sang pemilik hakiki kenikmatan tersebut. Dengan sangat mudah Allah swt sewaktu-waktu mengambil kenikmatan tersebut. Kesalahan yang diperbuat manusia berupa maksiat berdampak besar bagi kehidupan sesuai dengan tingkatan kemaksiatannya. Apabila kemaksiatan tersebut ekskalasinya besar maka dampak kerusakannya juga meluas. Kemaksiatan sistemik membawa dampak kerusakan sistemik pula.

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

"41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Q.S.30:41)

Perhatikan sekarang ini,  penerapan demokrasi sekuler berdampak kerusakan dimana-mana. Wajah pemerintahan tercoreng dengan perilaku politikusnya yang korup, tidak amanah, kebijakannya mencekik rakyat. Tata sosial yang amburadul dengan kriminalitas yang membumbung. Pendidikan compang camping. Kesehatan yang kronis. Harga diri bangsa dijual ke penjajah. Penegak hukumnya makin terganjal hukum. Saling memakan antar institusi penegak hukum. Jeruji besi penuh dengan penegak hukum. Hingga hukum sudah tidak kuat tegak lagi (loyo).

Mudik Akhirat

Mudik juga mengingatkan kita, bahwa kita semua akan kembali ketempat akhir muara manusia yaitu kampung akhirat. Bila ajal telah tiba tak kuasa manusia berkat-kata. Semua manusia akan kembali keharibaannya. Digiring satu persatu tanpa ada yang terselip barang satupun.

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُۥ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ ﴿٢﴾

"2. Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).(Q.S.6:2)

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ ﴿١٩﴾

"19. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya."(Q.S.50:19)

Oleh-Oleh

Mudik ke akhirat tak mengenal waktu dan usia. Tidak ada pengumuman terlebih dahulu. Tidak harus sakit, tidak menunggu tua renta. Kapanpun dimanapun bila ajal tiba. Maka saat itulah malaikat datang menjemput.
Jika demikian, kematian bukan suatu yang perlu ditakutkan. Yang perlu dipersiapkan adalah bekal atau 'oleh-oleh' yang harus kita bawa untuk perjaalanan akhirat yang panjang dan tak bertepi. Apa bekal terbaik yang harus kita bawa? Ya, Ketaqwaan adalah bekal terbaik. Karena ketaqwaan adalah predikat terbaik manusia.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

"18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Q.S.59:18)
 ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿١٩٧﴾

"197. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Q.S.2:197)

Salah satu wasilah yang Allah swt berikan kepada manusia dalam merajut ketaqwaan adalah puasa ramadlan (QS. Al-Baqarah : 183). Maka sudah seyogyanya kita bersikeras  lulus sebagai alumni ramadlan mendapat gelar taqwa.

Pastikan perjalanan mudik kita aman dan selamat sampai tujuan. Hidup bukan barang mainan yang dihabiskan untuk mainan. Hidup adalah pertanggungjawaban yang besar. Berbekallah dengan taqwa. Pakailah sabuk pengaman. Sebaik-baik 'sabuk pengaman' adalah iman. Berhati -hatilah dijalan kehidupan. Tengok kanan dan kiri. Tengoklah mana yang halal dan haram. Kenalilah petunjuk jalan. Al-Quran dan As-Sunnah  sebaik-baik dan sejelas petunjuk jalan.Sampai jumpa, semoga kita ketemu di surgaNya.

[+/-] Selengkapnya...

MASALAH

Orang konyol sering membuat masalah...

Orang "Kerdil" memperbesar masalah...

Orang biasa membicarakan masalah...

Orang besar mengatasi masalah

Orang bijak bersyukur dengan masalah....

Orang kreatif melihat peluang dari masalah....

Orang beriman naik derajat karena masalah....

Jadi, gak ada masalah dengan "masalah"...

Masalahnya, bagaimana cara kita menyikapi "masalah"...

Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian "masalah" demi "masalah"...

So, Jadikanlah "MASALAH" sebagai "Masa memaknai rencana Allah"...

Selamat selamat beraktifitas dengan berbagai macam masalah... salam.

[+/-] Selengkapnya...

Pembantu Rektor

Pada suatu pagi Prof Dr Karim terbangun karena ada suara 'kresekkresek' di ruang keluarga. Ketika keluar didapatinya pintu depan terbuka dan TV nya sudah lenyap. Buru-buru dia ke kantor Polisi, hanya dengan pakaian dalam, kolor dan singlet, untuk melapor. Pak polisi di depan mesin tik tuanya bertanya:

"Nama?"
"Karim Pak"

"Pekerjaan?" tanya Polisi.

"Purek", kata Professor.

"Pekerjaan apa itu?" polisi minta penjelasan. "Pembantu Rektor"

Belum selesai Professor bicara langsung Pak Polisi marah-marah:

"Kamu ini bagaimana, pembantu kok kurang hati-hati, pintu harus dikunci baik-baik, bangun kalau ada suara aneh, kalau perlu tidak tidur, kasian kan Pak Rektor kehilangan TV".

[+/-] Selengkapnya...

Bola Karet dan Bola Kaca

Brian Dyson,
(mantan CEO Coca Cola)
pernah menyampaikan pidato yg sangat menarik :

"Bayangkan hidup itu spt pemain akrobat dengan 5 bola di udara.

Kita bisa menamai bola-bola itu dengan sebutan:
1. Pekerjaan 👷
2. Keluarga 👪
3. Kesehatan 😀
4. Sahabat, 👬 dan
5. Semangat 💪

Kita hrs menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yg terjatuh.

Kalaupun situasi mengharuskan Anda melepaskan salah satu di antara 5 bola tsb, lepaskanlah "Pekerjaan" karena pekerjaan adalah BOLA KARET.

Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali.

Namun 4 bola lain spt Keluarga, Kesehatan, Sahabat, dan Semangat adalah BOLA KACA.

Jika Anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!"

Kemudian, Dyson mencoba mengajak kita hidup secara lebih seimbang.

Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola karet).

Bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut.

Contohnya:
- Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga,
- Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan,
- Demi uang atau pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dg sahabat baik.

Bukan berarti pekerjaan tidak penting!

Tapi jgn sampai uang atau pekerjaan menjadi "berhala" dalam hidup kita.

Ingat, kalaupun kita kehilangan pekerjaan, maka perkerjaan dan uang selalu bisa dicari lagi.

Tapi jika keluarga sudah "terjual", ke mana kita bisa membelinya lagi?

Apakah kita bisa membeli sahabat?

Apakah kesehatan kita bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis atau sudah kronis?

Mari jaga agar prioritas hidup kita tetap BALANCE !

Semoga Bermanfaat 😉

[+/-] Selengkapnya...

Dialog Ayah dan Anak

Anak : "Ayah, Ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tidak akan menggigit anaknya. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?"

Ayah: "Tidak, Nak...tetapi ayah akan mengusir nyamuk sepanjang malam supaya tidak menggigit siapapun!"

Anak: "Oya Ayah, aku pernah membaca cerita tentang seorang Ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan sampai kenyang. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?"

Ayah: "Tidak, Nak.. Ayah akan bekerja sekuat tenaga supaya kita semua bisa makan dengan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan makanan karena merasa tidak tega melihat Ayahmu sedang menahan lapar!"

Sang Anakpun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan Ayahnya...

Anak: "Kalau begitu, aku boleh selalu menyandarkan diriku kepada Ayah, ya?"

Sambil memeluk sang anak....

Ayah:"Tidak, Nak...Ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, supaya engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat Ayah harus pergi meninggalkanmu"

Ayah yang bijak bukan hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga berhasil bisa membuat sandaran itu tidak diperlukan...

(Ditulis oleh Prof. Joni Hermana, baru saja terpilih sbg Rektor ITS)

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Arsip Cyber | Design by Rohman abdul manap | Template by : Template Unik