Yuven anak SDN 1 Pagi

Yuven murid paling terkenal di sekolahnya.

1. Miskomunikasi
Guru. : "Yuven!" Di mana letak Jantung?"
Yuven: "Gak tau, Pak."
Guru. : "Bodoh! Keluar!"
*Yuven keluar sebentar lalu masuk lagi*
Yuven: "Pak, di luar juga gak ada Jantung."
Guru. : 😠

2. Tdk ngerjain PR
Guru  : "Kenapa telat?"
Yuven: "Saya dicopet, Bu"
Guru. : "Terus kamu ga apa-apa?"
Yuven: "Ga apa-apa, Bu."
Guru. : "Apa yang hilang?"
Yuven: "Buku PR, Bu."
Guru. : 😩

3. Lupa Pelajaran
Guru. : "Siapa yg ingat pelajaran minggu lalu?"
*hening*
Guru. : "Yuven? Kamu ingat?"
Yuven: "Sudahlah, Bu! Yang lalu, biarlah berlalu."
Guru  : 😟

4. Nyontek
Guru. : "Yuven, jangan nyontek!"
Yuven: "Gak, Pak."
Guru. : "Terus ngapain nengok-nengok ke Lena?"
Yuven: "Ini soal-soalnya kayaknya sama, Pak. Jadi, saya cuma mencocokkan jawaban!"
Guru  : 😡

5. Pulang duluan
Guru. : "Oke, siapa yg bisa jawab pertanyaan saya, boleh pulang duluan."
*Yuven lempar tas lewat jendela*
Guru. : "Siapa yg lempar tas tadi?"
Yuven: "Saya, bu! Horee aku bisa pulang duluan!"
Guru. : 😰

6. Ajaran Ortu
Guru. : Yuven setelah 7 berapa?"
Yuven: "8, 9, 10, Bu."
Guru. : "Bagus! Siapa yang ajarin?"
Yuven: "Bapak, Bu."
Guru. : "Terus, setelah 10 apa?"
Yuven: "Jack, Queen, King, Bu!"
Guru: 😫

7. Dukungan Bapak
Bapak: "Yuven, klo UAN ini kamu gagal lagi, jangan pernah panggil aku Bapak!"
..........*Setelah UAN* .........
Bapak: "Yuven, gimana UAN kamu?"
Yuven: "Maaf, ancur Brow"
Bapak: 👹

[+/-] Selengkapnya...

Mendidik Generasi Ala Shohabah Nabi

Dalam sebuah kelas di sebuah sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya : "Apa cita-cita kalian bila besar nanti?"

Maka, seperti umumnya anak-anak, mereka menjawab ingin menjadi dokter, teknisi, polisi, dan jabatan-jabatan semisalnya, sampai pada seorang murid, ia berkata : "Aku ingin menjadi seperti sahabat nabi, karena ibuku selalu mengatakan bahwa merekalah orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya."

Maa Syaa' Allaah...

Ayah dan ibu, pernahkah hal itu terbetik di benak anak-anak kita? Menjadi seperti sahabat nabi radhiyallahu 'anhum ajma'in. Atau, anak-anak kita lebih mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh non muslim, orang-orang fasik, atau malah tokoh-tokoh fiksi dan tidak mengenal nama-nama para sahabat Nabi mereka?

Naudzbillah min dzalik....

Bila demikian, maka janganlah mengeluh apabila kita melihat banyak anak-anak kaum muslimin yang sangat sulit menerima ajaran Islam, bahkan bangga dengan syiar-syiar kekafiran dan kefasikan, karena mereka telah mengambil panutan yang salah.

Ayah ibu, tidakkah kita merindukan generasi-generasi cemerlang yang membawa kembali kebesaran nama Islam? Kalau begitu, marilah kita buka kembali lembaran sejarah paling gemilang dalam Islam, yaitu sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat beliau radhiyallahu 'anhum, sebagaimana sabda Rasulullah :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3651, dan Muslim no. 2533).

Bila kita buka shirah nabawiyah, kita akan temui bahwa sebagian besar sahabat nabi adalah pemuda, bahkan di antara mereka adalah anak-anak.

Ayah ibu, mari kita baca dan kisahkan pada anak-anak kita tentang Ali bin Abi Thalib. Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, pada usianya 10 tahun.

Usia yang sangat belia, tetapi Ali telah mampu memilih jalan hidupnya sendiri, membedakan yang hak dari yang bathil, melawan tradisi kaum dan keluarganya, tanpa merasa minder karena usianya yang sangat muda. Bandingkan dengan sebagian besar anak-anak zaman ini yang hanya berfikir untuk bermain, sibuk dengan game, play station, atau tontonan hiburan semata.

Betapa cerdasnya Ali kecil, yang telah memilih peribadahan kepada Allah semata dan mengambil Rasulullah sebagai teladannya, sementara lingkungannya adalah penyembah berhala dan penghalang dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Itulah Ali, yang selanjutnya menjadi pemuda gemilang dalam Islam dan dikabarkan oleh Rasulullah sebagai orang  yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya..

Atau mari kita kisahkan tentang kepahlawanan Usamah bin Zaid, pemuda kecintaaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin memerangi pasukan Romawi, saat usianya masih 18 tahun! Sungguh prestasi yang luar biasa.

Dan Usamah pun mampu membuktikan kepercayaan Rasulullah kepadanya dengan membawa kemenangan bagi kaum muslimin, tanpa ada satu korban pun dari kaum muslimin!

Atau tuturkan kepada anak-anak kita tentang Ibnu Abbas, yang dijuluki tintanya umat ini. Tahukah Anda, berapa usianya ketika menjadi sahabat nabi? Kurang dari 13 tahun! Dalam usia yang sangat belia itulah, Ibnu Abbas banyak mengambil hadist dan pelajaran dari Nabi, sehingga setelah Nabi wafat, ia meriwayatkan sebanyak 1660 hadist dan menjadi periwayat hadist terbanyak kelima di antara sahabat nabi.

Subhanallah! Remaja kecil dengan hati yang sadar, pikiran yang jernih, hafalan yang luar biasa, hujjah yang kuat, dan intuisi yang tajam, ditambah dengan doa Rasulullah untuknya:

«اللهم فقّهه في الدين، وعلّمه التأويل».

"Ya Allah pahamkanlah ia akan ilmu agama, dan ajarilah ia tafsir.."

Ayah ibu, kisahkan pula tentang  keberanian para shahabat belia yang ingin menjadi syuhada..Ya, menjadi syuhada. Kata-kata yang mungkin tidak dikenal oleh sebagian besar remaja saat ini, apalagi untuk diimpikan.

Tapi  itulah mereka.. Muadz bin Amr bin Al Jumuuh dan Muadz bin Afra'. Dua remaja yang mengikuti perang Badr untuk membunuh Abu Jahal, sampai akhirnya keduanya berhasil membunuh Abu Jahal, fir'aun masa itu.

Atau tentang Umair, saudara Sa'ad bin Abi Waqash. Berkata Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu; aku melihat saudaraku Umair bersembunyi di tengah pasukan (sebelum perang Badr), maka aku bertanya: "Ada apa denganmu?"

Ia menjawab: "Aku takut Rasulullah melihatku dan menolak aku ikut berperang, sedangkan aku ingin berperang, agar Allah menjadikan aku syuhada'.  Ketika Umair dihadapkan pada Rasulullah, beliau menolaknya karena usianya yang masih kecil, maka Umair pun menangis...

Atau bukalah kisah Zaid Bin Tsabit, yang ketika mendatangi bertemu Nabi usianya baru mencapai 11 tahun. Ketika itu, ia telah menghafal 17 surat dalam Al-Qur'an.

Zaid adalah sekretaris bagi Rasulullah, Rasulullah meminta Zaid untuk belajar bahasa Yahudi untuk menuliskan surat-surat beliau kepada kaum Yahudi.

Dalam usia yang sangat muda tersebut Zaid mampu menguasai bahasa Yahudi hanya dalam waktu 15 hari!  Setelah itu, Zaid radhiyallahu 'anhu selalu menuliskan surat dakwah untuk kaum yahudi sekaligus menerjemahkan balasan surat dari kaum yahudi tersebut untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Zaid juga memiliki kemampuan menghafal dan menulis yang handal, sehingga ialah salah seorang sahabat yang berperan besar dalam pembukuan Al-Qur'an.

Ayah Ibu, tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan anak-anak kita seperti mereka? Generasi dengan akal yang jernih dan iman yang menancap kokoh di dada, melahirkan sederet sikap yang mulia, sangat jauh dari sikap hura-hura serta mengekor para pemuja dunia..

Tidakkah terketuk hati kita untuk menjadikan mereka panutan bagi putera-puteri kita, ketimbang tokoh-tokoh khayal dan para pelaku maksiat?

Karenanya, mari kita dekatkan generasi muda kita dengan para sahabat, jangan pernah enggan meluangkan waktu untuk membuka dan membacakan sejarah mereka. Didik anak-anak kita untuk mencontoh mereka, atau setidaknya mengenal dan mencintai mereka! 

(( AD-DIINU AN-NASHIIHAH ))

[+/-] Selengkapnya...

Kangen water?

Baca dulu http://www.chem1.com/CQ/ionbunk.html sebelum anda beli...

[+/-] Selengkapnya...

Miskomunikasi

Contoh-contoh Komunikasi yang Kurang Nyambung:

1. Dok, tolong selametin anak saya! || Tenang dulu bu! Anak ibu kenapa? || Anak saya ulang tahun dok! Selametin ya…

2. Rapi amat lo Dul, mau kemana? ||           Nonton konser Mak! || Dimana? || Di Youtube || Oh, baek baek yak Dul || Iye mak

3. Bang, bakso dong || Boleh || Sambelnya banyakin dikit ||  Mau lu apa sih, banyak ape sedikit gitu aja ngomong nya biar jelas guaa?

4. Bang, nasi goreng satu! || Pedes apa gak? || Mana gue tau? Kan belum juga di goreng nasinya apa lagi nyicipin...

5. Bang bubur 1 ya! || Pakai kacang? || ya pakee.. || Dikasih ayam nggak? || lah  kalau dikasih ayam gue makan apa?

6. Saya mau ngelamar kerja, ini poto copy ijazah saya || Kok poto copy?!? aslinya mana…???||  Asli Tegal…!!

7. Bang maaf, disini ruangan ber-AC, jadi nggak boleh ngerokok. || Oh maaf pak, lupa matiin AC-nya…!!! (Ambil remote)

8. Bang, kok mie ayamnya gak ada ayamnya?! || Lah, lu kalau beli lem tikus emang ada tikusnya?! || Gerrrrrrrgh

9. Mbak minta es teh || Manis gak? || Gak usah manis-manis, yang penting setia dan mau menerima saya apa adanya *eaaaaaaa

10. Guru: Ayo anak-anak coba sebutkan ciri-ciri gunung aktif || Murid: miscall aja bu, kalo nyambung berarti aktif

11. Dek sekolah di mana?, kok bajunya kotak-kotak hitam putih gitu? || Sekolah TK || TK mana? || TK teki silang

12. Abang bakso, gerobaknya rusak ya? || Enggak koq.. || Lah… Koq didorong??

Jaka sembung naik goJék...
Gak nyambung, Jek...

[+/-] Selengkapnya...

APAKAH KITA MSH MENOMER-SATU-KAN HARTA SBG PERTIMBANGAN UTAMA PERJODOHAN?

Kisah ini terjadi sekitar awal Agustus 2015 di Jawa Timur ketika semua orang sibuk dg kegiatan 17an. 

Seorang gadis yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya di daerahnya, satu-satunya pewaris tunggal dari semua kekayaan ayahnya.

Gadis ini diam-diam mencintai seorang pemuda yang bekerja sebagai buruh pabrik di perusahaan ayahnya begitu pun pemuda itu juga sangat mencintai sang gadis yang anak dari sang bos tempatnya dia bekerja.

Lama-kelamaan sang ayah pun mengetahui hubungan antara putri semata wayangnya dengan salah satu buruh di pabriknya itu, jelas saja sang ayah tak merestui hubungan ini, perbedaan faktor ekonomi lah yang menjadi sebab musababnya.

Sudah beberapa kali putrinya meminta dan memohon agar merestui hubungan cinta mereka tetapi sang ayah tetap bersikukuh engan keputusannya, hingga sang ayah mengancam kepada sang pemuda akan memecat dia dari pekerjaannya bila pemuda itu tak juga memutuskan hubungan asmara dengan putrinya.

Namun.. keputusan sang ayah tak memudarkan cinta mereka, mereka tetap bersikeras untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, hingga akhirnya sang gadis itu pun pergi meninggalkan rumah bersama sang pemuda, walau sang gadis tahu kehidupannya akan sedikit sengsara namun itu tak menghalangi niatnya untuk minggat dari rumah.

Ayahnya kebingungan mencari dimana keberadaan putrinya itu, hingga dia menyadari apa yang telah dilakukannya selama ini telah melukai hati putrinya, dia pun segera menulis permintaan maafnya di beberapa media surat kabar nasional dan lokal.

“ANAKKU SAYANG, MAAFKAN AYAH, NAK. AYAH TAHU CINTA KALIAN TAK DAPAT TERPISAHKAN, PULANGLAH, NAK, AYAH MERESTUI KALIAN”

Hingga akhirnya isi permintaan maaf itu terbaca oleh sang gadis dan dia pun segera pulang menemui ayahnya ditemani sang pemuda, tentunya kedatangan mereka disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga sang gadis.
Hari berganti hari persiapan pernikahan mereka hampir rampung semua.

Ketika sang calon pengantin tengah berada disebuah boutique untuk mempiting baju pengantin mereka, sang gadis tengah asyik mencoba gaun pengantinnya, sang pemuda berpamit untuk membeli minuman disebuah toko yang terletak diseberang boutique.

Ketika pemuda ini menyebrang tanpa diduga sebuah truk berkecepatan tinggi menabraknya pemuda itu terpental jauh hingga beberapa meter, sang gadis yang melihat kejadian itu segera berlari ke arah pemuda itu, namun naas pemuda itu langsung meninggal ditempat, darah pemuda itu terus mengalir digaun putih pengantin sang gadis hingga akhirnya sang gadis tak sadarkan diri.

Besoknya, jenazah sang pemuda baru dikebumikan, hingga malam setelah pemakaman sang pemuda, ibu sang gadis bermimpi didatangi seorang nenek tua yang menyuruh untuk segera membersihkan noda darah sang pemuda digaun putih pengantin sang gadis, namun sang ibu malah mengabaikannya.

Hingga malam kedua setelah pemakaman giliran sang ayah yang bermimpi didatangi nenek tua untuk membersihkan noda darah itu, karena merasa ada keganjilan akhirnya mereka pun mencoba menghilangkan noda darah itu.

Namun, hingga hari keenam darah itu tak juga menghilang dari gaun putih pengantin sang gadis walau segala usaha telah dilakukan, malamnya sang gadis ini pun bermimpi didatangi sang nenek tua lalu nenek tua itu mengancam akan membunuh sang gadis bila sampai hari ke tujuh noda darah itu tak juga menghilang.

Sampai lah hari ketujuh setelah pemakaman sang pemuda, malam itu tak seperti biasanya rumah sang gadis mendadak sepi, tiba-tiba ada yg menggedor-gedor pintu utama dengan kerasnya, dengan segenap keberaniannya gadis itu mencoba membuka pintu utama, namun apa yang terjadi di lihatnya seorang nenek yang datang kedalam mimpinya semalam ada dihadapannya sekarang hingga gadis itu terjatuh lunglai tak berdaya,

“SIAPA KAMU...?
MAU APA KESINI....?” tanya sang gadis ketakutan Bukannya menjawab pertanyaan sang gadis, nenek itu malah semakin mendekati gadis itu.

“NENEK HANYA INGIN MEMBERIKAN INI, NAK”, jawab sang nenek melemparkan sebuah bungkusan ke arah sang gadis

“INI APA...?” tanya sang gadis masih ketakutan dan gemetaran
Dengan suara lirih nenek itu menjawab :

“ITU RINSO ANTI NODA UNTUK MEMBERSIH KAN NODA YANG MEMBANDEL"

[+/-] Selengkapnya...

Nasionalisme Santri (?)

@Bambang Kir

Janggutnya sudah mulai meninggalkan dunia hitam. Suara baritonnya menambah wibawa. Di Pesantren, ia dikenal tangkas menjawab pertanyaan wartawan. “Jadi apa arti nasionalisme menurut Bapak?” Tanyanya suatu ketika kepada utusan Pemerintah. Utusan itu sebelumnya mengutarakan bahwa team mereka mendapat tugas untuk menyelenggarakan ‘Training Kebangsaan’. “Apa Bapak meragukan ‘nasionalisme’ kami…nasionalisme santri-santri kami…?” protes Kyai yang mulai sepuh itu.  “Jika Bapak meragukan pembelaan kami terhadap negeri ini, silahkan diuji… ‘Bawa masuk’ tentara Amerika ke Indonesia, kami jamin santri kami akan berada di shaf depan untuk menghadapi mereka. Dan saya jamin, birokrat-birokrat yang sok nasionalis itu akan lari terbirit-birit dan sembunyi di bawah meja birokrat meski setiap Senin hormat bendera.” Lanjutnya berargumen.

Setelah berdiskusi panjang, utusan itu akhirnya ‘setengah menyerah’. Di satu sisi, betapapun ia adalah delegasi yang harus pulang membawa hasil. Gagal dalam sebuah missi, bisa mengancam karir dan ‘periuk’ mereka. Disisi lain, ia juga tak bisa banyak menjawab argumentasi sang Kyai. Akhir kata, disepakatilah sebuah kompromi. Kuliah kebangsaan tetap diadakan; diselipkan dalam sebuah sambutan acara seremonial Pesantren yang kolosal. Bukan dalam bentuk training melainkan pidato dengan durasi sekitar satu jam. Dan untuk mewujudkannya, sang utusan memberikan dana atas nama ‘training kebangsaan’ itu (hehe.., mau juga duitnya). Karena yang memberi kuliah adalah seorang menteri, kawan saya harus meminjam mobil camry ke Pemerintah Kabupaten waktu itu. (wah, harusnya sekali-kali diajak jalan kaki ya..)

Tapi itu cerita beberapa tahun lalu. Dan kini, upaya mereduksi ‘arti cinta tanah air’ kembali mencuat. Seorang Bupati yang konon dulu adalah seorang guru; dan konon sekolah tempat ia mengajar kini sedang tak mendapatkan murid, tiba-tiba menebar ancaman hendak menutup sebuah SDIT yang mulai maju; sebuah sikap yang jauh dari pribadi mantan seorang guru. Seorang walikota yang terkenal santun dan berpihak kepada wong cilik, juga tiba-tiba mengumbar ancaman akan menutup sebuah SDIT. Semua atas sebab tak menjalankan upacara bendera. Beberapa pesantren di luar jawa, juga mulai mendapat tekanan serupa meski tak diwartakan di surat kabar. ‘Hormat bendera’ kini menjadi indikator penting loyalitas seseorang kepada bangsanya. Kita kembali dibawa ke alam Orba.

Menarik, sebab ‘tebar ancaman’ ternyata hanya tertuju pada beberapa sekolah tertentu. Betapa banyak institusi pendidikan di negeri ini yang tak menggelar upacara bendera dan tak pernah disoal? Hal ini mengingatkan kita Januari lalu dimana sebuah lembaga bernama ‘Setara Institute’ mengklaim telah melakukan riset atas TKIT dan SDIT. Simpulannya, TKIT dan SDIT telah mengajarkan benih radikalisme Islam karena sering melombakan nasyid jihad Palestina. “Lagu-lagu jihad itu mengancam NKRI dan bertentangan dengan Pancasila. Kenapa tidak pakai lagu-lagu perjuangan Indonesia?” kata Ismail Hasani, sang peneliti yang tak jelas jasanya kepada bangsa ini. “Jadi kita harus waspada..!” katanya penuh curiga. Statement yang muncul dalam paket acara “Deradikalisasi” di hotel Atlet itu, tak memerlukan penjelasan panjang tentang siapa dan mau kemana arah diskusi itu.

Padahal banyak pelajaran penting soal Ujian Pertahanan di negeri ini. Saat organisasi separatis RMS beraksi di Maluku, oknum yang adalah orang penting di Badan Intelejen sowan kepada sesepuh jihadis. Ini tentu bukan cerita koran, tapi cerita behind the scene yang bersumber dari pelaku. Sang Intel meminta bantuan agar aktifis jihadis membantu Negara untuk menghadapi kelompok separatis itu. “Segala sesuatunya akan kita siapkan Pak…” bujuk sang intel. Sesepuh itu menjawab, “Maaf, kami tidak biasa beramal atas dasar order. Kami hanya beramal lillahi ta’ala.” Para aktifis jihadis ternyata sudah ada di lapangan karena Allah semata. Oknum Intelejen yang dulu sering nongol di media itu menanggapi, “Baik, jika Bapak tidak bersedia kami akan meminta aktifis yang lain.”

Jadi bahwa mental pembelaan Negara itu dimiliki ‘kelompok santri’ bukanlah rahasia. Birokrat sangat mengerti akan hal itu. Sejarah menunjukkan negeri ini dibangun oleh tetesan darah santri. Sebuah komunitas perwira nan ikhlas. Kelompok yang tak berharap pamrih kecuali ridha ilahi. Sebuah komunitas yang menggariskan hidupnya dalam dua kalimat: ‘Hidup mulia atau Mati Syahid’. Sayang banyak orang memanfaatkan  ‘keikhlasan’ santri selama ini. Bukankah doktrin jihad terbukti paling unggul melawan Belanda? Dalam khazanah kita, ada Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pengeran Antasari, Bung Tomo dan lain-lain. Term ‘Jihad’ sebagai spirit perlawan mereka terekam apik dalam buku-buku ‘babad sejarah’ negeri ini. Saat kemudian Belanda hengkang, para pejuang sejati kembali ke surau-surau. Sebaliknya, para tentara yang masa itu adalah output didikan Belanda dan Jepang justru tampil memimpin negeri bak pahlawan kesiangan. Santri, ternyata hanyalah sebuah kuda tunggangan.

Saat aktifis jihadis berjibaku menghadapi RMS, Petugas Keamanan bersembunyi di kolong-kolong seperti burung pipit sambil berkata, “Mas, tembak-menembaknya sebelah sana saja biar tidak kena saya”. Ini cerita mujahidin kepada saya. Saat aktifis jihadis gugur tertembus peluru RMS, Para Birokrat kita asik berselingkuh dengan bangsa-bangsa penindas. Mereka sibuk menjual aset-aset Negara yang oleh Stiglitz (mantan Ketua Tim Ekonomi Bank Dunia) dijelaskan sebagai ‘penjajahan sistemik.’ Stiglitz akhirnya ‘tidak tahan’ dan menulis testimoninya dalam “Globalization And Its Discontents”. Ia ternyata masih punya nurani. Bukankah bangsa ini sudah mulai melupakan perampokan atas nama ‘privatisasi’? Apa kabar Semen Gresik gate, Krakatau Steel gate, Telkom gate, dan Indosat gate? Hampir bisa dipastikan (sebagaimana dituturkan Stiglitz) bahwa dalam setiap ‘privatisasi’ ada 10 % masuk ke kantong decision maker? Dan yang pasti, para mekelar hitam itu adalah cumlaude dalam melafalkan Pancasila dan khusyu’ dalam upacara bendera.

Penjajahan memang hanya berganti model. Kita semua sepakat bahwa sesungguhnya kita belum pernah merdeka. Bukankah pembukaan UUD Negara ini mencantumkah bahwa Indonesia baru sampai ‘di pintu gerbang kemerdekaan’? Yang harus kita ingat, bahwa penjajah tidak akan langgeng tanpa dukungan begundal lokal. Belanda bisa bertahan menjajah selama 350 tahun, karena ulah demang dan bupati. Mereka para-para begundal yang hanya memikirkan perut dan kelompoknya. Agaknya, kita belum beranjak jauh dari situasi itu. Tambang minyak dan emas kini berganti pemilik dengan ‘bangsa kulit putih’ sebagai tuan. Aset potensial dijual murah ke bangsa-bangsa asing. Kita tak memiliki kemandirian politik dan ekonomi. Kita menjadi buruh di negeri sendiri. Dan siapa lagi para bandit itu kalau bukan yang rajin berupacara bendera?; memparadekan ke-khusu’an nasionalisme tapi hatinya penuh dengan kemunafikan?

Ironis. Kini, saat Birokrasi gagal mendapat kepercayaan masyarakat di sekolah dasar; yang membuat sekolah-sekolah negeri tak mendapatkan siswa, komunitas santri kembali terpanggil membangun bangsanya. Sebagian sekolah yang semula hampir ambruk disulap menjadi sekolah-sekolah unggulan dan favorit. Umumnya kemudian menjadi TKIT atau SDIT dengan pola fullday school. Lokal yang dikelola, bahkan kini tak sanggup menampung luapan siswa. Karena keikhlasannya, banyak dari mereka yang digaji di bawah UMR. Sungguh, sebuah penghayatan kebangsaan yang dalam istilah sufi bukan lagi berlevel syariat tapi sudah hakekat. Pada saat yang sama, para birokrat itu punya keasyikan memainkan anggaran sambil berfikir ‘adakah proyek baru agar aku bisa beli mobil keluaran terbaru itu?’. Dan kini, para ‘pahlawan tanpa tanda jahasa’ sedang disoal kecintaannya kepada bangsanya semata karena muridnya tak hafal Pancasila?

Ya, tapi para guru itu memang ‘berdosa’ karena mengajarkan nasyid Palestina. Tapi agaknya, itulah cara ampuh mereka menjauhkan anak didik dari mental para maling. Menanamkan mental pejuang sejati yang rela berkorban jiwa raga bagi kebenaran. Dan itulah ‘ilmu hekekat’. Lalu, apakah mental koruptor yg mengorbankan kepentingan orang demi keuntungan pribadi lebih berharga bagi negeri ini?

Merdekaaa!!!

[+/-] Selengkapnya...

MENGUBAH SUDUT PANDANG

Ada seorang ibu rumah tangga yang miliki 4 anak laki-laki.

Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah ditanganinya sendiri.

Suami serta anak-anaknya menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada 1 masalah, ibu yg pembersih dan prefeksionis ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak & marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak kaki kotor di atas karpet,  suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi & menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan".
Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil menutup mata, senyum ibu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan;
"Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda & tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung hilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas bayangkan apa yang tengah terjadi pada suami & anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu & kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya  "Bagaimana, apakah karpet kotor masih jadi kekhawatiran buat ibu?"
Ibu itu tersenyum & gelengkan kepalanya.
"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya kerasan di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang ilhami Richard Binder & John Adler ciptakan NLP (Neurolinguistic Programming).
Dan teknik yang dipakainya  disebut "REFRAMING", yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Berikut beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah; bukan di bar, kafe, atau tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak ngluyur jadi anak jalanan.

4. Untuk Tagihan yang cukup besar, itu berarti syukur Allah memberikan rezeki utk kita berpenghasilan.

5. Untuk sampah & kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan & beli saatnya beli Slimming Capsule.

7. Untuk rasa lelah, capai &penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.

9. Untuk bunyi alarm keras jam 4.30 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.

10. Untuk yang memposting broadcast panjang &'mengganggu' ini artinya masih ada orang yang peduli mau berbagi Nasihat &CINTA kepada kita.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Arsip Cyber | Design by Rohman abdul manap | Template by : Template Unik